ForexSignal88.com l Jakarta, 15/12/2018 - Dolar AS belum tertandingi walaupun sempat terpukul di pertengahan pekan lalu (10-14 Desember). Dinamika di bursa forex dan emas pada pekan lalu masih didominasi oleh kabar di seputar politik Inggris dan Eropa namun isu suku bunga dan tensi dagang AS-China pun tetap menjadi bahan bakar yang menyulut aksi pasar.

Mengawali pekan tersebut, greenback langsung tancap gas, terbantu oleh kabar geopolitik Eropa yang mengecewakan para pelaku pasar yaitu pengunduran diri Kanselir Jerman Angela Merkel dari posisinya sebagai ketua partai Uni Demokrat Kristen (CDU) dan hadirnya 48 mosi tidak percaya dari parlemen Inggris kepada Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Dolar AS juga bangkit dari tekanan setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan di pekan sebelumnya bahwa suku bunga AS mendekati ‘tingkat netral’ yang pasar anggap sebagai sinyal perlambatan kenaikan suku bunga bank sentral AS.

Data ketenagakerjaan bulanan dari AS di awal bulan ini juga ekonomi AS menciptakan pekerjaan baru yang lebih sedikit dari perkiraan pada bulan November, sementara jumlah di bulan Oktober direvisi lebih rendah.

PM May Batalkan Voting, Greenback Lanjut Melonjak

Selanjutnya penguatan dolar AS berakselerasi seiring tersiarnya kabar buruk dari Inggris yaitu pembatalan agenda pemungutan suara Brexit di parlemen negara tersebut oleh PM May. Sebuah keputusan sulit yang mendongkrak tingkat ketidakpastian hasil akhir drama Brexit yang batas waktunya hanya sekitar tiga bulan lagi.

PM May membatalkan pemungutan suara parlemen yang dijadwalkan hari Selasa (11/12), menundanya tanpa keterangan lebih lanjut. Ia membatalkan agenda itu karena khawatir bahwa rancangan kesepakatan Brexit-nya tidak akan mendapatkan jumlah suara yang diperlukan untuk lolos di parlemen, di tengah ketidaksepakatan di antara para anggota parlemen Inggris mengenai masalah perbatasan Irlandia alias backstop.

PM May berusaha untuk meyakinkan parlemen Inggris bahwa dia akan mencari jaminan hukum tambahan dari Uni Eropa (UE) bahwa masalah backstop hanya akan sementara selama negosiasi di Brussels selama beberapa hari ke depan.

Backstop adalah langkah terakhir untuk mempertahankan perbatasan terbuka (open border) di pulau Irlandia saat Inggris meninggalkan UE tanpa mengamankan kesepakatan yang komprehensif.

Saat ini, barang dan jasa diperdagangkan antara dua yurisdiksi di pulau Irlandia hanya dengan sedikit pembatasan.

Inggris dan Irlandia saat ini merupakan bagian dari pasar tunggal UE dan kepabeanan, sehingga produk tidak perlu diperiksa untuk pabean dan standar yang ada.

Potensi Redanya Perang Dagang Ungkit Greenback

Dolar AS menguat lagi pada hari Selasa (11/12) setelah para pejabat Gedung Putih dan kementerian perdagangan China mengatakan bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer telah berbicara via telepon.

Walaupun para pejabat itu tidak memaparkan rincian pembicaraan itu, langkah para petinggi Washington dan Beijing tersebut dipandang sebagai langkah positif yang berpotensi menurunkan tensi friksi perdagangan Sino-AS.

Pertumbuhan ekonomi global, yang sejauh ini sudah menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum, membuat investor global takut jika perang perdagangan habis-habisan antara kedua ekonomi terbesar di dunia tersebut kelak menambah beban bagi ekonomi global.

Sementara itu, para investor tetap cemas terhadap potensi runyamnya Brexit walaupun PM May berusaha mendapat dukungan dari para pemimpin Eropa untuk mau mengubah kesepakatan Brexit-nya.

Dukungan bagi greenback juga datang indikator inflasi harga produsen yang menanjak, sebuah tekanan baru bagi Federal Reserve yang dapat memaksa bank itu menaikkan suku bunga acuannya. Indeks harga produsen inti (core PPI) AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan November.

The Fed terus mengawasi data-data inflasi karena saat para produsen harus membayar lebih tinggi barang-barang modal yang mereka butuhkan maka beban kenaikan harga dapat terdistribusi kepada para konsumennya.  

Sterling Balik Memukul Greenback

Dolar AS harus mengakui kehebatan sterling pada sesi Rabu (12/12) yang menguat tajam sehingga memicu mata uang lain untuk ikut menghajar mata uang AS.

Penurunan tajam nilai tukar dolar AS terhadap pound sterling dipicu oleh spekulasi para investor yang meyakini bahwa PM May akan meraih dukungan solid dari Partai Konservatif (Tory) setelah di Twitter terlihat ada 160 orang koleganya secara terbuka mengindikasikan dukungan untuknya menjelang voting mosi yang berlangsung pada hari Rabu malam waktu setempat.

Dolar AS juga terbebani oleh indeks harga konsumen (CPI) di hari sebelumnya yang tidak berubah namun jelas berkurang dari kenaikan 0,3% yang terlihat pada bulan Oktober, sedangkan para ekonom memperkirakan kenaikan 0,1%.

Seperti kita ketahui, greenback berada di bawah bayang-bayang tekanan jual baru-baru ini di tengah ekspektasi dan spekulasi para pelaku pasar bahwa The Fed akan menghentikan laju kenaikan suku bunga di tahun depan.

Pun demikian, kenaikan suku bunga satu kali lagi di tahun ini diperkirakan akan terjadi di pekan depan saat para pejabat bank sentral itu menggelar rapat kebijakannya.

Kabar tentang Brexit sebenarnya cukup sulit untuk diprediksi karena tentangan terhadap rencana Brexit dari PM May datang dari berbagai sisi. Bahkan saat akhirnya sang perdana menteri berhasil lolos dari mosi tidak percaya pada sebuah pemungutan suara rahasia pada hari Rabu, sterling sempat tertekan tipis. PM May mengamankan dukungan dari 200 rekan faksi Konservatif sementara 117 lainnya memilih menentangnya.

Dolar AS Masih Ditekan Sterling dan Euro

Dolar AS mendapat tekanan lagi dari sterling dan euro meskipun masih mampu menekan mata uang utama lainnya pada sesi perdagangan Kamis (13/12).

Sterling masih dihiasi sentimen positif menyusul lolosnya PM May dari potensi jeratan mosi tidak percaya yang muncul setelah pada hari Senin ia membatalkan pemungutan suara di parlemen terkait rencana Brexit yang sudah ia sepakati bersama UE, seperti tersebut di atas.

Sterling juga terdorong oleh optimisme pasar meskipun upaya PM May melobi para petinggi Eropa di Brussels belum tentu membuahkan hasil yang lebih baik bagi Inggris.

Sementara itu, euro sempat terdorong naik oleh pernyataan resmi Bank Sentral Eropa (ECB) yang menegaskan akan tetap menghentikan pembelian obligasi baru.

Bank sentral itu juga berjanji untuk mempertahankan dukungan kebijakan untuk zona euro terhadap risiko dari ketegangan perdagangan global, Brexit dan kisruh anggaran Italia dan situasi politik Prancis.

Membaiknya situasi di Inggris dan Eropa tersebut juga membebani aset safe havens lainnya yaitu yen dan emas di mana keduanya tampil melemah di sesi Kamis.

USD Balas Semua Gelombang Tekanan yang Menerpanya

Namun di penghujung sesi perdagangan pekan lalu, dolar AS berbalik naik hingga ke titik tertinggi 19 bulan terhadap sejumlah mata uang utama karena berita politik dan ekonomi yang mengkhawatirkan di luar AS mendorong minat beli yang kuat karena greenback tetap dipandang sebagai aset safe haven terbaik.

Pada hari itu, yuan China pun jatuh karena data menunjukkan penjualan ritel China pada November tumbuh pada laju paling lambat sejak tahun 2003 dan output industri menandai pertumbuhan terlemahnya dalam hampir tiga tahun.

Yuan offshore merosot sekitar 0,36 persen menjadi 6,9025 per dolar. Lemahnya data ekonomi China dan yuan memicu aksi jual terhadap dolar Australia sejak awal sesi tersebut.

Euro juga jatuh karena dua anggota terbesar zona euro menunjukkan tanda-tanda perlambatan dan di saat yang sama sterling gagal mempertahankan penguatan selama dua hari karena para pedagang mulai khawatir terhadap upaya keras PM May untuk mendapatkan jaminan dari UE atas kesepakatan Brexit.

Daya tarik greenback juga tumbuh mengikuti membaiknya data penjualan ritel AS dan output industri pada bulan November yang dirilis pada Jumat malam (14/12).

Meskipun demikian penguatan greenback masih dibatasi oleh spekulasi pasar bahwa The Fed mungkin akan segera berhenti menaikkan suku bunga setelah kenaikan yang diperkirakan terjadi di minggu ini, tepatnya 18-19 Desember, sebanyak seperempat poin, menjadi 2,25-2,50 persen.

Bullish greenback juga tertahan oleh kemungkinan penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) AS karena Presiden Donald Trump dan anggota parlemen federal tidak mencapai kesepakatan atas pendanaan untuk pembangunan dinding perbatasan AS-Meksiko.

 

EURUSD

 FS88 JOURNAL EUR TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK :NEGATIF CENDERUNG NETRAL 

O : 1.1392     H : 1.1443      L : 1.1270      C : 1.1301

PERGERAKAN SEPEKAN 10/12 – 14/12 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 173 PIP

Secara Fundamental, Bank sentral European Central Bank (ECB) secara resmi menghentikan program stimulusnya senilai 2,6 triliun euro (Rp 42.998 triliun). ECB akan menghentikan program pembelian obligasi era krisisnya Desember ini setelah melakukannya selama hampir empat tahun.

Berbagai bank Eropa secara umum telah mengkritik program quantitative easing (QE) ECB itu dengan mengatakan program tersebut berdampak negatif pada pendapatan bunga bersih mereka. Di saat yang sama, issue keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) atau BREXIT akan memukul beberapa bisnis Jerman lebih keras daripada yang lain.

Namun, hal itu seharusnya tidak memiliki dampak serius terhadap ekonomi negara itu secara keseluruhan, kata kepala organisasi pengusaha Jerman BDA, Jumat (14/12/18). Presiden BDA Ingo Kramer mengatakan kepada surat kabar Augsburger Allgemeine bahwa ia memperkirakan perekonomian terbesar di Eropa itu akan mampu mengatasi masa transisi karena Inggris hanyalah salah satu dari beberapa mitra dagang yang penting.

"Tentu Brexit akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi di Jerman, terutama beberapa perusahaan individual, tetapi itu tidak akan berdampak serius pada ekonomi secara keseluruhan," katanya, dilansir dari halaman Reuters. Kramer mengutip perkiraan pertumbuhan ekonomi Jerman sekitar 1,5% pada 2019, tetapi mengatakan ada tanda-tanda momentum ekonomi positif Jerman dalam beberapa tahun terakhir akan surut.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa, perubahan terbesar dalam perdagangan dan kebijakan luar negeri selama lebih dari 40 tahun, telah menjadi masalah yang makin rumit menyusul terpecahnya Partai Konservatif, Majelis Rendah, dan negara itu sendiri.

Theresa May pada pekan kemarin ini selamat dari upaya untuk melengserkannya dari jabatan sebagai Perdana Menteri Inggris, tetapi mengatakan ia tidak berharap untuk mendapatkan terobosan yang cepat dalam pembicaraan Brexit yang akan memungkinkan dia untuk mempercepat kesepakatan pemisahannya melalui parlemen.

Kramer juga menggarisbawahi pentingnya migrasi untuk ekonomi Jerman, dan mengatakan Jerman bisa menghadapi penurunan ekonomi seperti yang terlihat pada 1990-an jika menutup pintu bagi para migran.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Uni Eropa, diantaranya :

  1. German Ifo Business Climate Selasa 18/12/18 Pk 16:00 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga EURUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai rebound intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.1400, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.1447 – 1.1494 – 1.1540. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.1262, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.1211 – 1.1167 – 1.1121.

 

GBPUSD

 FS88 JOURNAL GBP TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK :  NEGATIF CENDERUNG NETRAL

O : 1.2706     H : 1.2759      L : 1.2478      C : 1.2581

PERGERAKAN SEPEKAN 10/12 – 14/12 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 281 PIP

Secara Fundamental, Pada sepekan kemarin ini para pemimpin Uni Eropa (UE) di hari Kamis (13/12/2018) memberi Perdana Menteri Theresa May jaminan bahwa mereka akan berusaha untuk menyetujui kesepakatan baru dengan Inggris pada 2021, sehingga klausul backstop Irlandia yang penuh perdebatan tidak perlu dipicu.

Irlandia memblokir satu baris kalimat yang telah dimasukkan dalam rancangan awal pernyataan UE, di mana UE menjanjikan Inggris bahwa blok itu akan berusaha untuk memberikan lebih banyak jaminan di kemudian hari bagi Inggris. "Draft itu tidak bisa dinegosiasi ulang," kata 27 pemimpin nasional blok itu dalam pernyataan bersama tentang kesepakatan BREXIT yang mereka sepakati dengan Theresa May  pada akhir November.

Pemimpin Inggris itu, setelahnya, kembali ke Brussels untuk meminta jaminan yang dia sebut perlu dia pastikan untuk disahkan oleh parlemennya yang tengah terpecah. UE mengatakan ingin "membangun sedekat mungkin kemitraan dengan Inggris di masa depan" dan akan mulai memberlakukan hal tersebut pada akhir 2020 "sehingga backstop tidak perlu dipicu."

Jika backstop dipicu, Uni Eropa mengatakan perjanjian itu hanya akan berlaku "sementara, kecuali dan sampai digantikan oleh perjanjian berikutnya" yang akan memastikan tidak ada kemungkinan adanya perbatasan yang ketat di pulau Irlandia.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Inggris, diantaranya :

  1. CPI                         Rabu 19/12/2018 Pk 16:30 WIB
  2. Retail Sales                         Kamis 20/12/2018 Pk 16:30 WIB
  3. MPC Official Bank Rate Votes Kamis 20/12/2018 Pk 19:00 WIB
  4. Monetary Policy Summary Kamis 20/12/2018 Pk 19:00 WIB
  5. Current Account Jumat 21/12/2018 Pk 16:30 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga GBPUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.2695, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.2769 – 1.2837 – 1.2911. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.2470, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.2396 – 1.2322 – 1.2247.

AUDUSD

 FS88 JOURNAL AUD TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK :  NEGATIF CENDERUNG NETRAL

O : 0.7186     H : 0.7245      L : 0.7149      C : 0.7177

PERGERAKAN SEPEKAN 10/12 – 14/12 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 96 PIP

Secara Fundamental, Data Produksi Industri (Industrial Production) China tumbuh 5.4 persen dalam basis tahunan pada bulan November 2018. Angka tersebut turun dari 5.9 persen pada bulan Oktober, dan lebih rendah daripada ekspektasi yang memperkirakan hasil flat. Penyebabnya adalah menurunnya pertumbuhan di sektor pertambangan dan manufaktur. Data Industrial Production China kali ini menjadi yang terendah sejak Februari 2016.

Data ekonomi China menjadi penting untuk diperhatikan sehubungan dengan perkembangan perang dagang AS-China. Mata uang yang kerap terpengaruh rilis data ekonomi China adalah mata uang Antipodean seperti Dolar Australia, karena China merupakan negara partner dagang utama bagi Australia. Selain itu, menguatnya Dolar AS jelang kebijakan The Fed minggu depan turut menambah beban penurunan Dolar Australia pada sepekan kemarin.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Australia, diantaranya :

  1. Monetary Policy Meeting Minutes Selasa 18/12/18 Pk 07:30 WIB
  2. Employment Change Kamis 20/12/18 Pk 07:30 WIB
  3. Unemployment Rate Kamis 20/12/18 Pk 07:30 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga AUDUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 0.7247, kemungkinan harga akan kembali ke level 0.7277 – 0.7304 – 0.7334. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 0.7146, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 0.7119 – 0.7092 – 0.7063.

XAUUSD

 FS88 JOURNAL XAU TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK : NEGATIF CENDERUNG NETRAL

O : 1248.85   H : 1250.10   L : 1232.70    C : 1238.20

PERGERAKAN SEPEKAN 10/12 – 14/12 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : $17.4 atau 174 PIP

Secara Fundamental, Sebuah putaran data ekonomi China yang lebih lemah dari perkiraan menghantui investor global. Namun, hal itu gagal memberikan tumpuan kuat untuk harga emas karena dolar Amerika Serikat (AS) menguat.

"Harga emas turun usai beberapa poin data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan, khususnya soal data penjualan ritel dan revisi data Oktober," ujar Jeff Wright, Wakil Presiden Direktur GoldMining Inc, seperti dikutip dari halaman Marketwatch, Sabtu (15/12/2018).

Ia menambahkan, tekanan lebih lanjut terhadap harga emas  didorong kenaikan dolar AS. Ini seiring data ekonomi melemah dari Uni Eropa dan tanda kalau tarif impor AS-China berdampak terhadap ekonomi China. Harga emas untuk pengiriman Februari melemah USD 6 atau 0,5 persen ke posisi USD 1.241,40 per ounce, terendah sejak 3 Desember. Selama sepekan, harga emas tergelincir 0,9 persen.

Sementara itu, harga perak merosot 21,8 sen atau 1,5 persen menjadi USD 14.637 per ounce. Aktivitas bisnis China sebagian besar melambat pada November seiring produksi industri tumbuh 5,4 persen pada November. Namun, produksi industri turun dari posisi Oktober 5,9 persen. Penjualan ritel naik 8,1 persen pada Oktober, dan di bawah harapan.

Data lebih melambat itu berdampak terhadap bursa saham global. Ini ditunjukkan dengan wall street tertekan menyambut akhir pekan. Sedangkan dolar AS menguat secara solid sehingga berdampak ke harga emas.

"Penurunan emas pada Jumat sangat dipengaruhi kinerja dolar AS,” ujar Analis FXTM, Lukman Otunuga. Adapun indeks dolar AS naik 0,4 persen. Harga emas sensitif terhadap pergerakan dolar AS. Dolar AS menguat dinilai berdampak terhadap komoditas yang dihargai dalam dolar AS lebih mahal bagi pengguna mata uang lainnya.

Kepala Riset ThinkMarkets UK, Naeem Aslam menekankan, kalau indeks dolar AS cenderung menguat pada 2018. Sedangkan data AS menunjukkan penjualan ritel November cukup kuat. Produksi industri naik 0,6 persen pada November 2018.

Sedangkan harga komoditas lainnya antara lain palladium melemah USD 19,10 atau 1,6 persen menjadi USD 1.171,60 per ounce. Harga platinum untuk pengiriman Januari susut USD 12,20 atau 1,5 persen menjadi USD 785,30 per ounce, selama sepekan merosot hampir 0,7 persen. Harga tembaga untuk pengiriman Maret susut 0,2 persen menjadi USD 2.763 per pound.

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga XAUUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1250.30, kemungkinan harga akan kembali ke level 1257.95 – 1265.35 – 1272.15. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1232.15, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1225.05 – 1217.35 – 1210.00.

   

Sumber: ForexSignal88.ComForexFactory.ComCFTC, Investing.ComBloomberg.ComKitco.ComOilnGold.Com

DailyFx.ComReuters.ComCNN.ComMarketWatch.ComAssociated Press Sumber Gambar: ArabianBusiness.Com

Tags: #forexsignal88 #signalforex #sinyalforex #forexsignal #analisaforex #analisagold #belajarforex #seputarforex #sekilasforex #eurusd #gbpusd #audusd #xauusd #signalforexharian #signalforexakurat #analisaforex #analisatradingforex #analisaforexharian #analisagold #beritaforexindonesia #beritaforexharian #beritaterkiniforex #analisajituforex #toptrendingforex #signalforexgratis #signalforexindonesia #tipsforex #trikforex #strategiforex #teknikforex #analisateknikal

Share This

Jurnal Mingguan Lainnya

March 23, 2019

Pertumbuhan Ekonomi Lambat Berarti The FED Akan STOP Kenaikan Suku Bunga

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 23/03/2019 - Dinamika bursa forex dan emas cukup menarik pada pekan lalu (18-22 Maret). Mengawali perdagangan di pekan tersebut, dolar AS berada di bawah kendali para bears karena pada pekan sebelumnya, sederet data ekonomi AS…
March 16, 2019

Poundsterling Menggila Karena Brexit dan Voting Parlemen Inggris

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 16/03/2019 - Pound sterling tampil sebagai bintang pada sesi perdagangan forex pekan lalu (11-15 Maret), sementara harga emas hanya menambah sedikit pemulihannya pasca penyusutan hingga $1.280,70 pada pekan sebelumnya. Fokus utama…
March 09, 2019

ECB Membunyikan Alarm Atas Suramnya Pertumbuhan Ekonomi Eropa

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 09/03/2019 - Perdagangan forex dan emas cukup fluktuatif pada sesi pekan lalu (4-8 Maret), di saat pasar, untuk sementara waktu, terlihat melupakan tema perang dagang AS-China. Batas waktu 1 Maret yang ditetapkan oleh para…
March 02, 2019

Ketua Federal Reserve Optimistis Akan Ekonomi Amerika Serikat, Bagaimana Pasar Merespon?

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 02/03/2019 - Dolar AS kembali menunjukkan pemulihan pada penutupan pekan lalu (25 Februari - 1 Maret) setelah di pekan sebelumnya berakhir negatif. Pada pekan lalu, data MetaTrader yang digunakan oleh tim analisis pasar keuangan…
February 24, 2019

Negosiasi Perang Dagang Cina VS AS Masih Menemukan Jalan Buntu. Investor Wait and See

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 24/02/2019 - Pada perdagangan forex, emas dan minyak mentah sepanjang pekan lalu (18-22 Februari), tidak terlihat perubahan besar karena pasar masih terjebak pada mode “wait and see” di tengah gelombang beberapa peristiwa atau…