ForexSignal88.com l Jakarta, 16/03/2019 - Pound sterling tampil sebagai bintang pada sesi perdagangan forex pekan lalu (11-15 Maret), sementara harga emas hanya menambah sedikit pemulihannya pasca penyusutan hingga $1.280,70 pada pekan sebelumnya.

Fokus utama pasar di pekan lalu adalah Brexit, meskipun topik perdagangan AS-China dan prospek suku bunga Federal Reserve sempat menambah semarak aktivitas perdagangan di pasar keuangan global.

Mengawali pekan lalu, dinamika forex masih diwarnai momentum perdagangan di pekan sebelumnya yakni saat dolar AS tertekan oleh laporan pembayaran gaji (nonfarm payrolls/NFP) AS yang mengecewakan pasar.

Dolar AS tertekan saat itu setelah NFP menunjukkan adanya penambahan 20.000 pekerjaan dalam pembayaran gaji domestik AS bulan lalu, jauh lebih sedikit dari 180.000 yang diperkirakan para ekonom.

Tetapi selanjutnya pasar menjadi gamang setelah melihat tingkat pengangguran (unemployment rate) AS turun kembali di bawah 4 persen dan pendapatan rata-rata per jam (average hourly earnings) meningkat sebesar 0,4 persen.

Dua komponen data itu adalah sebuah indikasi ekonomi AS masih cukup kuat dan tetap memberi peluang bagi Federal Reserve untuk menjaga opsi kenaikan suku bunga sambil terus memantau perkembangan ekonomi domestik dan global.

Pound Sterling Menggila karena Voting Parlemen Inggris

Tiga pemungutan suara di House of Commons (Parlemen Inggris) menjadi bahan bakar sekaligus api yang menyulut fluktuasi tajam pound sterling di pekan lalu. Pound sterling mulai menunjukkan pergerakan luar biasa pada hari Senin (11/3).

Mata uang itu melonjak setelah Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan Presiden Uni Eropa Jean-Claude Juncker telah menyampaikan tawaran "sangat penting" kepada Inggris untuk memecahkan kebuntuan dalam pembicaraan Brexit.

Saat itu, menjelang pemungutan suara Parlemen Inggris, Perdana Menteri Theresa May bergerak ke Strasbourg untuk mencoba menyelesaikan perjanjian Brexit.

Pemungutan suara pertama pada Selasa (12/3) menjadi penentu sikap anggota Parlemen Inggris atas rancangan kesepakatan penarikan diri Inggris yang diajukan oleh PM May, yang menderita kekalahan besar di legislatif Inggris pada Januari.

Sterling sempat melonjak tajam lagi pada Selasa pagi karena spekulasi bahwa PM May mungkin mendapatkan persetujuan untuk kesepakatan Brexit-nya.

Namun kemudian di hari itu, sterling berbalik turun dengan cepat karena kabar gagalnya upaya PM May mendapat persetujuan dari Parlemen Inggris atas amandemen rancangan kesepakatan Brexit, membuat pasar harus berhadapan dengan ketidakpastian lagi mengenai akhir dari drama Brexit dengan batas waktu tersisa sekitar dua pekan lagi.

Pada hari berikutnya, Rabu (13/3), pound sterling tampil sebagai primadona di bursa forex, melonjak ke level tertinggi sejak 14 Juni 2018 setelah anggota House of Commons menolak opsi Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan (no-deal Brexit) dalam skenario apa pun.

Pemungutan suara yang tidak mengikat (non-binding vote) itu memperbesar tekanan bagi Perdana Menteri Theresa May untuk membuang opsi keluarnya Inggris tanpa kesepakatan, dan membuka jalan bagi pemungutan suara lainnya untuk menunda Brexit.

Hasil Voting Terakhir Commons Redam Rally GBP

Pemulihan greenback terjadi pada Kamis (14/3) karena rally pound sterling terhenti menjelang pemungutan suara terakhir mengenai opsi perpanjangan batas waktu 29 Maret, tanggal di mana Inggris direncanakan sebelumnya untuk keluar dari Uni Eropa.

Kemudian, pada pemungutan suara ketiga di Kamis malam waktu setempat, anggota Parlemen Inggris akhirnya memilih untuk menunda Brexit.

House of Commons memberikan suara dengan hasil 413 banding 202 untuk meminta penundaan Brexit selama setidaknya tiga bulan setelah jadwal semula yaitu 29 Maret. Jumlah yang mendukung meningkat menjadi 413 setelah diumumkan sebelumnya sebanyak 412 suara di majelis itu.

Mosi tersebut menjadi desakan agar pemerintah Konservatif Perdana Menteri Theresa May berjuang untuk mendapatkan perpanjangan waktu sampai 30 Juni.

Akhirnya, para pelaku pasar menyimpulkan Brexit masih diselimuti ketidakpastian namun di saat yang sama masih ada harapan bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa melalui sebuah jalan yang mulus, jauh dari kekacauan yang potensial berdampak besar pada stabilitas politik dan ekonomi negara itu.

Sebagai dampak tambahannya, berkuranglah permintaan safe haven untuk logam kuning sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian Brexit, setelah anggota parlemen Inggris menolak meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan. Harga emas turun kembali ke bawah $1.300,00.

Greenback Tetap Terdesak di Akhir Sesi Pekan Lalu

Dolar AS semakin tak berdaya di penghujung perdagangan pekan lalu, terseret oleh lesunya data manufaktur dan industri AS. Federal Reserve New York menyampaikan pada Jumat (15/3), indeks manufaktur Empire State, yang menggambarkan kondisi manufaktur secara bulanan di seluruh negara bagian New York, turun 5,1 poin pada Maret menjadi 3,7. Angka tersebut adalah pembacaan bulanan ketiga berturut-turut di bawah 10 dan level terendah sejak Mei 2017.

Sementara itu produksi industri - pengukuran output di pabrik, tambang, dan utilitas - melambat menjadi 0,1% pada Februari dari bulan sebelumnya, di bawah perkiraan para ekonom untuk kenaikan 0,4%.

Anemia pada sejumlah data ekonomi AS belakangan ini menguatkan ekspektasi pasar bahwa ekonomi terbesar di dunia itu mulai melambat, sebagian penyebabnya adalah perang dagang melawan China yang hingga detik ini belum terlihat pasti bakal berakhir seperti apa, apalagi rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pun harus ditunda dan dijadwalkan kembali pada bulan April.

Jurnal Mingguan Lainnya

July 13, 2019

HOT TOPIC: Jika Suku Bunga The Fed Dipangkas, Apa Dampak Negatif dan Positif Bagi Keuangan Kamu?

in Jurnal Mingguan by Super User
Forexsignal88.Com - Kabar bahwa The Fed akan semakin terdesak dan akhirnya memangkas tingkat suku bunga semakin merebak. Betapa tidak, setelah rapat FOMC terakhir ketika The Fed memutuskan untuk tidak memangkas suku bunga, Presiden Trump menyerang the Fed…
July 06, 2019

Sekilas Forex: Presiden Trump Kembali Menyerang The Fed Karena Gagal Menaikan Suku Bunga Fed Rate

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 06/07/2019 - Non Farm Payroll pada Jumat kemarin dilaporkan meningkat sebesar 224.000 setelah ekpektasi awal pasar hanya sebesar 160.000. Selisih 72.000 ini adalah selisih yang besar dan Presiden Trump sendiri mengakui bahwa ini…
June 30, 2019

HOT NEWS: Usai Bertemu Presiden Cina, Trump Mengatakan Bahwa Ini Adalah Pertemuan Yang Sangat Baik Dengan Cina. Apa Artinya?

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 30/06/2019 - Usai bertemu Presiden Cina Xi Jinping, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pertemuan yang baru saja berlangsung pada hari Sabtu pagi merupakan pertemuan yang sangat, sangat baik. Jika melihat dari perang dagang…
June 22, 2019

Sekilas Forex: Virus Demam BULLISH GOLD Mulai Tersebar di Kalangan Investor Seiring Naiknya Harga Emas Melewati Level Tertinggi 6 Tahun

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 22/06/2019 - Kabar yang menarik datang dari investasi emas dimana harga spot XAU/USD kembali berkilau dengan gerakan meroket naik menembus level $1400.00 yang merupakan level tertinggi 6 tahun lalu. Bagi seorang investor, yang…
May 25, 2019

Fluktuasi Pasar Mata Uang Meningkat. Mulai Dari Pound Yang Terseret Drama Theresa May dan BREXIT Sampai Ke USD Yang Masih Dipengaruhi Sentimen Sengketa Dengan Cina

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 25/05/2019 - Fluktuasi besar pada hampir seluruh pasar keuangan terjadi di sepanjang sesi perdagangan pekan lalu (20-24 Mei). Bursa forex, komoditas, saham, bahkan obligasi menggeliat di pertengahan pekan lalu. Pada bursa forex,…