ForexSignal88.com l Jakarta, 26/01/2019 - Berbagai isu besar menyertai perjalanan forex dan emas di pekan lalu (21-25 Januari) sehingga terlihat fluktuasi dan volatilitas pasar yang cukup eksotis dan lucrative bagi para investor dan traders, jika disikapi dengan benar.

Pound sterling masih menjadi pemimpin pasar dengan pergerakan besarnya. Terhadap dolar AS, mata uang Inggris menutup sesi perdagangan pekan lalu dengan kenaikan sebesar 2,7 persen. Terhadap euro, sterling membukukan kenaikan 2,2 persen.

Perjalanan bursa forex dan emas berawal dari nuansa bullish dolar AS yang terbantu oleh kabar positif terkait hubungan dagang AS-China pada pekan sebelumnya setelah terdengar kabar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin berencana untuk mengangkat atau melepas sebagian, bahkan seluruh, tarif impor barang-barang dari China.

Walaupun tidak lama kemudian Departemen Keuangan AS membantah kabar tersebut, optimisme para pelaku pasar terlanjur terbentuk. Para investor lebih berani untuk menyusun berbagai aset berisiko ke dalam tumpukan portofolio investasi mereka.

Optimisme pasar tersebut sebenarnya bukan tanpa dasar. Kendati Departemen Keuangan AS menafikan kabar tersebut, faktanya sejak 7 Januari sudah terjadi pembicaraan intensif di antara para pejabat tinggi kedua negara yang ditafsirkan pasar sebagai upaya serius di antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut untuk mendinginkan hubungan mereka.

Keyakinan para pelaku pasar semakin solid setelah tersiar kabar Wakil Perdana Menteri China Liu He akan berkunjung ke Washington pada 30 dan 31 Januari untuk bersama membicarakan resolusi atas perang tarif Beijing-Washington.

Di hari yang sama, pasar pun terhenyak oleh pandangan pesimistis dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang memangkas perkiraan pertumbuhan global untuk tahun 2019 dan 2020.

Lembaga pinjaman dunia tersebut mengatakan kegagalan untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan selanjutnya dapat mengganggu stabilitas ekonomi global yang sedang melambat.

Sterling semakin berkilau

Sementara itu rona positif mulai terlihat pada pound sterling, sehingga tidak terpengaruh oleh penguatan aset safe havens, setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May menyampaikan “Brexit‘s Plan B” walaupun rencana cadangan itu secara efektif hanyalah penyajian kembali “Plan A” dengan beberapa jaminan bahwa masalah Irlandia Utara akan, pada titik tertentu, diselesaikan.

Jika kemudian rancangan kesepakatan baru, hingga nanti pertengahan Februari, tidak disetujui oleh kedua parlemen di Brussels dan Inggris, kemungkinan besar Inggris harus keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Sterling pun semakin perkasa, membebani upaya pemulihan dolar AS, setelah ada kabar PM May Terus didesak agar dapat membawa negaranya keluar dari Uni Eropa namun terhindar dari Brexit yang kacau, membuka peluang kompromi antara pemerintahan May dengan parlemen Inggris dan oposisi.

Gelombang penguatan dolar AS perlahan meredup, tersapu oleh kemilau sterling dan bayang-bayang government shutdown yang terpanjang dalam sejarah AS yang berdampak ke sekitar 800.000 pegawai federal AS dan ekonomi negara tersebut.

Sementara harga emas dan mata uang safe havens saat itu tetap berkutat di dalam ruang konsolidasi sempit karena pasar belum memiliki alasan kuat untuk memburu aset-aset tersebut, ditambah lagi dolar AS masih berjuang keras untuk menghalau tekanan.

ECB dovish dan bantu dolar AS bertahan

Pada hari Kamis (24/1) dolar AS sempat menguat kembali setelah bank sentral Eropa (ECB) terdengar dovish setelah pada rapat kebijakan moneternya memutuskan tidak mengubah tingkat suku bunga acuannya.

Presiden ECB Mario Draghi memperingatkan, “Risiko yang mengelilingi prospek pertumbuhan kawasan euro telah bergerak ke arah bawah karena ketidakpastian yang terus-menerus terlihat.”

Draghi juga menyatakan bahwa suku bunga dapat dipertahankan lebih rendah untuk waktu yang lebih lama jika kelemahan ekonomi di wilayah itu berlanjut.

Namun demikian ECB tetap menaruh opsi kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini di atas meja mereka walaupun di saat yang sama mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan suku bunga rendah apabila ekonomi yang lemah tetap terlihat di kawasan tersebut.

Dorongan bullish dolar AS saat itu juga datang dari data klaim pengangguran yang pertama kalinya sejak tahun 1969 menunjukkan jumlah pengajuan tunjangan pengangguran di bawah 200.000.

Dolar AS akhirnya menyerah

Pada penghujung sesi perdagangan pekan lalu, greenback harus mengakui dominasi para rivalnya. Indeks dolar AS menutup sesi perdagangan mingguan dengan penurunan 0,62 persen.

Pelemahan dolar AS tersebut terjadi di tengah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menjadi lebih dovish pada rapat kebijakan di akhir Januari, sementara reli pound sterling juga terus membebani mata uang AS.

Dolar AS pun semakin tertekan menyusul laporan dari The Wall Street Journal bahwa The Fed kini lebih dekat dari yang diperkirakan untuk mengakhiri pelonggaran neracanya.

Depresiasi dolar AS pun membantu aset safe havens menguat. Pada basis mingguan franc menguat 0,32 persen terhadap greenback, yen berakhir naik 0,21 persen versus dolar AS dan harga emas menutup pekan lalu dengan kenaikan 1,48 persen walaupun sementara ini masih dihambat oleh level psikologis $1.300,00.

Selanjutnya untuk pekan depan (28 Januari - 1 Februari), selain isu geopolitik dan hubungan dagang Sino-AS juga rapat kebijakan The Fed pada 30 dan 31 Januari, para investor dan traders akan menyoroti pidato presiden ECB dan gubernur Bank of England, data inflasi Australia, Jerman dan AS, indeks keyakinan konsumen AS, data manufaktur AS dan China, serta satu set data bulanan ketenagakerjaan AS (nonfarm payrolls). 

Jurnal Mingguan Lainnya

May 19, 2019

Amerika Serikat dan Cina Saling Mengancam Akan Menaikan Tarif Dagang Terhadap Barang Dari Masing-Masing Negara. USD Sementara Masih Dipandang Sebagai Safe Haven, Ikuti Terus Perkembangannya

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 19/05/2019 - Sengketa perdagangan dua raksasa ekonomi dunia masih menjadi penggerak utama perdagangan forex dan emas sepanjang pekan lalu. Eskalasi terbaru dalam perang perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China terlihat…
May 12, 2019

Kesepakatan Dagang Cina dan Amerika Serikat Terancam Gagal Ketika Tarif Barang Cina Akan Dinaikan dan Cina Disebut Melanggar Kesepakatan. Ini Sebuah Kemunduran Dan Ketidakpastian Bagi Investor

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 12/05/2019 - Drama perang perdagangan Amerika Serikat (AS) versus China menjadi tajuk utama yang menyita perhatian para pelaku perdagangan forex dan emas di sepanjang pekan lalu (6-10 Mei). Ketegangan perdagangan antara dua…
April 28, 2019

Prospek Suram Ekonomi Eropa Bantu Dolar AS di Jalur Positif

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 28/04/2019 - Kesehatan ekonomi AS dan negara-negara besar lainnya, prospek suku bunga di antara bank-bank sentral utama, dan prospek masa depan pertumbuhan ekonomi global menjadi topik utama pada perdagangan forex dan emas di…
May 05, 2019

Kekuatan USD Masih Bergejolak Tarik Menarik Antara Bull dan Bear

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 05/05/2019 - Nuansa negatif sudah menyelimuti dolar AS pada awal pekan lalu (29 April – 3 Mei) setelah data produk domestik bruto AS pada pekan sebelumnya, meskipun melonjak, ternyata setelah dibedah terlihat beberapa komponen…
April 14, 2019

3 Hal Yang Membuat USD Mulai Melemah dan Berpotensi Untuk Lanjut Pada Pekan Depan

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 14/04/2019 - Dolar AS terpaksa menyerah pada sesi perdagangan pekan lalu (8-12 April), setelah melalui sesi perdagangan yang relatif lebih kalem dari pekan-pekan sebelumnya. Pelemahan dolar AS terjadi sejak awal pekan lalu setelah…