ForexSignal88.com l Jakarta, 22/11/2018 – Menurut perkiraan ekonomi terbaru yang dikeluarkan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), proyeksi perlambatan global bisa terbukti lebih buruk lagi jika ketegangan perdagangan AS-China meningkat.

Laporan itu juga memperingatkan, rumah tangga Australia bisa menghadapi kenaikan suku bunga dalam waktu dua tahun tetapi hanya jika pertumbuhan upah meningkat.

OECD turut memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Australia akan melambat, dari 3,1 persen tahun ini menjadi 2,9 persen tahun depan, dan 2,6 persen pada 2020.

Lembaga itu juga memprediksi pertumbuhan global lebih lambat karena ketidakpastian dan ketidakstabilan yang lebih besar, khususnya perang perdagangan AS-China.

Pertumbuhan ekonomi global, berdasarkan laporan tersebut, akan menurun dari 3,7 persen menjadi 3,5 persen pada 2019 dan 2020.

Meskipun pertumbuhannya lamban, upah akan meningkat dan tingkat pengangguran Australia akan turun. Ini akan menghasilkan "pengetatan kebijakan moneter", dengan kata lain, kenaikan suku bunga baru bisa terjadi dalam dua tahun ke depan.

Ketika harga rumah terus jatuh di kota-kota besar dan keuangan semakin ketat, orang Australia akan mengurangi pengeluaran. Dalam kondisi ini, "hutang yang tinggi dari rumah tangga tetap merupakan risiko".

Pertumbuhan upah seharusnya berlanjut

Laporan itu menunjukkan perlambatan dramatis di China dan / atau koreksi tajam harga rumah bisa mengurangi kekayaan dan konsumsi rumah tangga dan berdampak pada sektor konstruksi.

Ketika ditanya apakah suku bunga yang lebih tinggi akan semakin memperburuk keadaan, kepala ekonom OECD, Laurence Boone, mengatakan organisasi itu hanya memperkirakan perubahan suku bunga jika ekonomi Australia bisa bertahan.

"Perekonomian Australia baik-baik saja," katanya.

Australian economy 'doing well', says chief OECD economist

"Ini melambat tetapi berjalan dengan baik dan kami tentu tidak mengambil kebijakan moneter untuk memperburuk perlambatan."

"Kami pikir bahwa selama dua tahun ke depan, karena upah dan harga benar-benar mulai meningkat, maka kebijakan moneter harus bereaksi dengan sesuai dan tepat waktu untuk itu." Suku bunga Bank Sentral Australia saat ini mencapai 1,5 persen.

Tarif dagang AS-China lemahkan pertumbuhan global

Laporan itu menyebutkan dua faktor utama yang menyebabkan ketidakstabilan: ketegangan perdagangan AS-China - yang telah meradang di bawah Presiden AS Donald Trump - dan ketidakpastian geopolitik.

"Meningkatnya ketegangan perdagangan dan ketidakpastian tentang kebijakan perdagangan tetap menjadi sumber risiko kerugian yang signifikan terhadap investasi global, pekerjaan dan standar hidup," kata laporan itu.

Pertumbuhan di Amerika Serikat diproyeksikan melambat dari hampir 3 persen sekarang, menjadi lebih dari 2 persen pada tahun 2020. Dan tingkat pertumbuhan China saat ini diharapkan melambat perlahan hingga 6 persen pada tahun 2020.

Namun laporan itu menunjukkan "dampak buruk dari tarif akan naik secara signifikan" jika Amerika Serikat menaikkan tarif impor komoditi dagang senilai $ 200 miliar (atau setara Rp 2 kuadriliun) dari China menjadi 25 persen pada Januari tahun depan, dengan tindakan pembalasan yang diambil oleh China.

Ini akan hampir menggandakan dampak pada PDB (Produk Domestik Bruto) di Amerika Serikat dan China pada 2020 dan 2021, dengan perdagangan dunia menurun lebih dari 0,6 persen, kata laporan itu.

Dalam lingkungan perdagangan yang genting seperti ini, pembuat kebijakan global harus siaga dan siap bertindak.

Pemimpin dunia didesak perbaiki kepercayaan diri

Mengingat suku bunga sudah rendah di negara maju seperti Amerika Serikat, ada ruang terbatas untuk menggunakan kebijakan moneter untuk bertindak. Ini berarti pemerintah harus menggulirkan stimulus fiskal.

Boone, mantan kepala ekonom untuk asuransi global AXA dan penasihat ekonomi senior untuk mantan presiden Prancis, Francois Hollande, mengatakan sudah waktunya bagi pemerintah untuk "memulihkan kepercayaan dan kerja sama".

"Itu berarti pertama-tama, duduk di meja perundingan, dalam sistem berbasis aturan internasional, untuk benar-benar membahas langkah-langkah tarif dan non-tarif untuk perdagangan," katanya.

"Ini juga berarti mendiskusikan dan mengupayakan kemungkinan kerja sama fiskal jika penurunan lebih parah daripada yang kami proyeksikan."

"G20 melakukannya untuk kebijakan moneter pada 2009, mereka bisa melakukannya lagi untuk kebijakan fiskal jika penurunan terjadi selama dua tahun ke depan."

Tangani ketidaksetaraan

Laporan itu mengatakan, pemulihan sejak krisis keuangan global tidak menyebabkan perbaikan nyata dalam standar hidup bagi banyak orang, dan itu telah memicu ketidakpuasan warga.

Boone mengatakan globalisasi dan digitalisasi, meski menuai manfaat bagi banyak orang dan mengangkat jutaan orang dari kemiskinan, juga meningkatkan ketidaksetaraan.

"Tetapi juga, dan terutama di negara maju, mereka telah menciptakan pemenang dan pecundang dan kami belum memberikan perhatian yang cukup kepada mereka yang belum menang," katanya.

"Kini, kami perlu untuk memfokuskan kembali kebijakan pada hal ini, dan itu berarti meningkatkan keterampilan, itu berarti menargetkan belanja sosial ke (golongan) yang kurang mampu."

"Ini juga berarti melihat ke perusahaan - sebagian kecil perusahaan - yang memperoleh banyak manfaat dari digitalisasi, tanpa, mungkin, berbagi cukup baik dengan para pekerja."

Dalam konteks Australia, laporan tersebut menunjukkan bahwa meski upaya untuk mengembalikan anggaran federal ke surplus adalah penting, "prioritas untuk memerangi ketidaktercakupan sosial-ekonomi - misalnya melalui reformasi pendidikan dan dukungan yang ditingkatkan untuk pencari kerja - harus dipertahankan".

sumber : forexsignal88.com

Share This

Berita Forex Lainnya

January 16, 2019

BREXIT : Adrenalin Kian 'MEMUNCAK' di Seputar PERTARUHAN TERAKHIR May

in Berita Forex by FS88 Research Division
ForexSignal88.com l Jakarta, 16/01/2019 – Perdana Menteri Inggris Theresa May perlu 318 suara dari 650 anggota parlemen untuk memenangkan proposalnya. Tapi, dukungan untuk meloloskan proposal tersebut kelihatannya hampir tidak ada. Pemerintahan Theresa May…
January 16, 2019

Pemerintah Inggris Kalah Telak, Sterling Berbalik Menguat

in Berita Forex by FS88 Research Division
ForexSignal88.com l Jakarta, 16/01/2019 – Pound sterling rebound dari posisi terendah terhadap dolar AS sesi perdagangan Selasa di $1,2669. Setelah penurunan cepat terjadi, mata uang Inggris memukul balik dan melakukan rally lebih dari satu sen hingga…
January 15, 2019

Inggris : Posisi May Kembali TERANCAM Voting BREXIT

in Berita Forex by FS88 Research Division
ForexSignal88.com l Jakarta, 15/01/2019 – Perdana Menteri Inggris Theresa May memperingatkan para anggota parlemen bahwa kegagalan melalui Brexit akan menjadi bencana bagi demokrasi. Ia menyampaikan hal itu demi mendapatkan dukungan jelang pemungutan suara di…
January 15, 2019

Dolar AS Mendatar di Tengah Penguatan Yen

in Berita Forex by FS88 Research Division
ForexSignal88.com l Jakarta, 15/01/2019 – Greenback bergerak mendatar pada hari Senin saat safe haven yen bergerak naik karena terjadinya penurunan tajam yang tak terduga dalam ekspor China meningkatkan kekhawatiran pasar atas kesehatan ekonomi global. USDJPY…
January 14, 2019

Inggris : Ketidakpastian BREXIT Menurunkan Pertumbuhan Ekonomi ke Level TERENDAH 3 Bulan

in Berita Forex by FS88 Research Division
ForexSignal88.com l Jakarta, 14/01/2019 – Ekonomi Inggris tumbuh pada laju terlemahnya dalam tiga bulan terakhir hingga November 2018. Data resmi yang dirilis pada Jumat (11/1) pekan kemarin menujukan perlambatan karena pabrik-pabrik terdampak kondisi…