ForexSignal88.com l Jakarta, 25/10/2017 – Saat ini perekonomian global sangat tergantung pada dolar AS. Perekonomian global terbentuk untuk menghasilkan barang dan jasa semurah mungkin untuk dikonsumsi oleh Amerika sebagai negara yang paling besar menyerap produksi dan negara yang paling konsumtif. Dolar AS kemudian menjadi pengganti Emas dan merupakan dasar dari sistem moneter global di seluruh pelosok dunia. Artinya, segala sesuatu memiliki nilai yang selalu diukur dan dibandingkan dengan dolar AS, bukan lagi Emas. Inilah dampak penghapusan standar emas.

Kondisi ini membuat siapapun yang menggunakan dolar terpaksa ikut terkena dampak dari setiap pergerakannya, termasuk menanggung hutang dan defisit bangsa Amerika. Sehingga ekonomi global makin bergantung pada perekonomian Amerika, sementara rumah tangga Amerika itu sendiri sekarang tergantung pada penurunan nilai dolar.

Memang sebelum perang Vietnam, Amerika memiliki posisi keuangan yang kokoh dan memegang lebih dari setengah cadangan devisa dunia waktu itu. Namun setelahnya situasi menjadi berubah jauh. Bangsa Amerika sangat menggantungkan tabungan dari negara-negara lain untuk membiayai hutang dan defisit keuangan mereka. Lebih dari 60% sirkulasi dolar berada di luar Amerika dan sebagian besar obligasi pemerintah Amerika dimiliki oleh asing – khususnya China dan Jepang.

Pergerakan naik/turunnya harga Emas dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya:

Inflasi tidak pernah mengalahkan harga Emas, kenaikan harga Emas selalu di atas nilai Inflasi. Berbeda dengan bunga bank, bunga bank tidak akan pernah melibihi nilai inflasi. Bank akan merugi jika memberikan suku bunga tabungan melibihi nilai Inflasi. Biasanya pemerintah akan menentukan asumsi nilai Inflasi pada periode Anggaran yang sedang berjalan. Jika asumsi tersebut dalam perjalanannya berubah drastis menjadi lebih tinggi, maka harga Emas akan meroket naik.

  1. Terjadi Krisis Finansial.

Krisis finansial normal terjadi dalam setiap lima tahun dengan skala kecil. Terkadang dalam setiap sepuluh tahun pun bisa terjadi krisis finansial yang sama dalam skala lebih besar. Ketika terjadi krisis finansial bisa memicu munculnya krisis kepercayaan, banyak orang yang tidak mau menyimpan surat berharga bahkan uang. Mereka kemudian mengalihkannya ke dalam bentuk Emas. Akibatnya harga Emas akan melonjak tinggi. Aset Safe Haven.

  1. Kurs Dolar AS Menguat Tajam.

Di Indonesia ber-investasi Emas tampaknya merupakan sebuah keharusan. Kenapa? selain faktor harga Emas dunia yang terus menguat, faktor nilai rupiah terhadap dolar yang tidak pernah menguat membuat harga Emas di Indonesia terus naik.

  1. Harga Minyak.

Ada hubungan yang menarik antara harga Emas dan Harga Minyak Mentah. Apabila minyak dibeli dengan Emas, maka jumlah Emas yang dibutuhkan untuk membeli minyak relatif tidak berubah. Jadi apabila terjadi kenaikan harga Minyak mentah dunia, maka harga Emas akan ikut naik (harga Komoditi). Tentunya akan diikuti oleh kenaikan harga Emas di pasar domestik.

  1. Naiknya Permintaan Emas di Pasar Lokal.

India dan China merupakan negara dengan permintaan Emas paling tinggi di dunia. Pada musim-musim tertentu seperti musim kawin di India, permintaan Emas di pasar lokal India menjadi sangat tinggi, dan karenanya dapat mempengaruhi permintaan Emas dunia. Hal ini biasanya terjadi pada bulan September, kemudian disusul dengan musim Natal di America dan Eropa, pada saat-saat seperti ini permintaan akan Emas terus meningkat yang menyebabkan harga Emas menjadi naik.

  1. Naiknya Permintaan Emas untuk Cadangan Devisa.

Biasanya kalau kurs valuta asing mengalami gonjang ganjing, bank bank sentral setiap negara akan memperkuat cadangan emasnya. Bila bank - bank memperkuat cadangan emasnya maka keseimbangan emas akan berubah. Apalagi jika yang mengumpulkan adalah negara - negara dengan cadangan devisa yang besar.

Sumber Gambar: businessinsider.com

Share This

Artikel Terkait Lainnya