ForexSignal88.com l Jakarta, 13/10/2017 – Anda sudah pernah mendengar warrant atau waran? Anda bisa membacanya terlebih dahulu di artikel Pengertian Warrant. Singkatnya, waran memiliki kemiripan dengan Opsi (Options), namun ada beberapa perbedaan utama di antara keduanya.

Waran umumnya dikeluarkan oleh perusahaan itu sendiri, bukan pihak ketiga, dan mereka lebih sering diperdagangkan di luar bursa (over-the-counter) daripada di dalam bursa. Investor tidak bisa menulis waran seperti pilihannya. Tidak seperti opsi (kecuali opsi saham karyawan), waran bersifat dilutive; dalam artian ketika seorang investor menjalankan surat Perintahnya (exercise), dia menerima saham baru yang dikeluarkan, bukan saham yang sudah beredar. Waran cenderung memiliki periode yang lebih lama daripada opsi.

Jika seorang investor meng-exercise warannya, maka perusahaan penerbit harus mengeluarkan saham baru, sedangkan pada opsi, saham yang diperdagangkan adalah saham yang telah beredar di bursa.

Waran sering kali digunakan sebagai “iming-iming” untuk investor jika perusahaan akan menerbitkan obligasi. Waran diberikan sebagai daya tarik yang diberikan agar investor mau membeli obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah dari tingkat suku bunga pasar. Dengan menerbitkan obligasi bersama-sama dengan waran perusahaan ingin mengurangi biaya yang harus dikeluarkan dalam bentuk bunga obligasi yang harus dibayarkan kepada investor secara regular. Jadi pada intinya, waran yang melekat pada penerbitan obligasi atau saham bertujuan agar investor tertarik untuk membeli sekuritas atau efek yang diterbitkan oleh perusahaan.

Walau waran merupakan bagian dari penerbitan saham atau obligasi, sebenarnya waran dapat diperjualbelikan secara terpisah selama waktu tertentu dengan memperhatikan nilai intrinsiknya. Hak untuk membeli saham pada waran dapat di’exeercise’ saat waran jatuh tempo atau pada periode tertentu setelah waran diterbitkan.

Sebagai contoh, misalkan waran PT. ABC yang diperdagangkan di bursa memiliki harga patokan atau exercise price sebesar Rp 1.200 dan akan jatuh tempo enam bulan yang akan datang. Kondisi ini dapat diartikan bahwa pemegang waran memiliki hak untuk membeli satu lembar saham PT. ABC seharga Rp 1.200, enam bulan dari sekarang. Jika selama enam bulan harga PT. ABC naik menjadi Rp 1.500, dalam situasi ini waran dikatakan “in the money” atau dengan kata lain waran tersebut memiliki nilai intrinsik sebesar Rp 300 (Rp 1.500 – Rp 1.300). Logisnya, jika investor mengeksekusi haknya dengan membeli saham PT. ABC maka ia akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 200 per lembar sahamnya (beli di harga Rp 1.200 dan langsung menjualnya di Bursa dengan harga Rp 1.500). Nilai intrinsik inilah yang dijadikan patokan dalam menentukan harga waran.

Tetapi bagaimana bila harga saham PT. ABC di Bursa ternyata turun menjadi Rp 1.000. Pada kondisi ini harga waran tersebut adalah nol dan bukanlah –(minus) Rp 200. Hal ini dikarenakan, sebuah waran merupakan hak bukannya kewajiban bagi pemegangnya, jadi tidak ada keharusan untuk menggunakan hak tersebut pada saat jatuh tempo.

Jadi nilai intrinsik sebuah waran paling maksimal adalah nol tidak pernah akan negatif. Begitu juga jika semakin tinggi harga saham di bursa dibandingkan dengan exercise price-nya akan semakin tinggi harga sebuah waran. Sebaliknya semakin rendah harga saham akan semakin rendah pula harga warannya.

Sumber Gambar: scripophily.net

Share This

Artikel Terkait Lainnya