ForexSignal88.com l Jakarta, 12/09/2017 – Ada beberapa cara yang biasanya digunakan oleh banyak perusahaan untuk mendapatkan tambahan modal, mereka dapat memperoleh tambahan modal melalui, pertama; laba yang dihasilkan perusahaan, kedua; kredit/obligasi, dan ketiga; penerbitan saham. Dalam memperoleh modal tambahan, terkadang perusahaan ingin menggunakan laba yang dihasilkan sebagai tambahan modal, bisa jadi akan ditolak oleh para pemilik atau pemegang saham karena pemilik dan pemegang saham lebih berkeinginan bahwa laba yang diperoleh tersebut harus digunakan sebagai pembayaran dividen. Sedangkan jika perusahaan menambah modal dengan kredit atau obligasi, ini bisa meningkatkan konflik antara pemegang saham dengan kreditor.

Memperoleh tambahan modal melalui penerbitan saham ternyata juga menimbulkan masalah yang serius, yaitu terlalu banyaknya pemilikan saham yang dimiliki pihak luar perusahaan sehingga campur tangan pihak luar terhadap perusahaan sangat tinggi. Oleh karena itu, untuk memecah kebuntuan dan kebingungan itu, perusahaan akan mencari tambahan modal dengan kombinasi ketiga cara tersebut secara proporsional, baik dari laba yang dihasilkan, kredit/obligasi, maupun dari penerbitan saham.

Nah, kali ini akan membahas penerbitan saham. Lebih spesifik, kita akan mengulas tentang proses penjualan saham oleh perusahaan di Bursa Efek.

Terdapat dua jenis penerbitan saham yang dilakukan oleh perusahaan atau lebih dikenal sebagai emiten (pihak yang menerbitkan saham), yaitu Initial Public Offering (IPO) dan Secondary Public Offering (SPO).

Initial Public Offering (IPO), ini disebut sebagai penawaran saham perdana, dimana untuk pertama kalinya suatu perusahaan menawarkan saham kepada masyarakat (investor). Penerbitan saham perdana ini memiliki waktu yang terbatas, tapi tidak dikenai komisi, selain itu juga harus dilakukan dengan perantara agen penjual, sehingga jika ada investor yang ingin membelinya maka harus melakukan pemesanan kepada agen penjual tersebut.

Pihak investor yang memesan saham di pasar perdana tidak selamanya pasti dapat kebagian saham, karena disini situasi bisa bermacam-macam. Contoh, saham yang dipesan public lebih banyak daripada yang ditawarkan emiten (perusahaan). Atau bisa juga sebaliknya, atau malah saham yang dipesan sama dengan yang ditawarkan. Jika hal ini yang terjadi maka saham akan terdistribusi sesuai pesanan para investor.

Secondary Public Offering (SPO), ini disebut sebagai pasar sekunder dimana saham perusahaan telah beredar di pasaran. Di pasar sekunder ini harga saham sudah dipengaruhi oleh situasi dan kondisi pasar sehingga harganya akan selalu berfluktuasi dengan jangka waktu yang tak terbatas. Dalam pasar sekunder juga sudah diberlakukan komisi, baik komisi penjualan saham maupun pembeliannya. Untuk melakukan jual beli saham, kegiatan tersebut harus melalui anggota bursa (perusahaan efek/pialang yang sudah terdaftar dan memiliki izin dari BAPEPAM). Biasanya proses transaksi jual beli saham membutuhkan waktu hingga 4 hari bursa.

Sumber Gambar: indiatimes.com

Share This

Artikel Terkait Lainnya