ForexSignal88.com l Jakarta, 07/09/2017 – Salah satu kebijakan Pemerintah yang telah sangat dikritik adalah kebijakan subsidi bahan bakar yang berumur beberapa dekade yang - untuk sebagian besar - disubsidi oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Walaupun kebijakan ini bertujuan mendukung masyarakat miskin Indonesia, segmen yang lebih mampu (termasuk kelas menengah) yang paling banyak diuntungkan oleh kebijakan bahan bakar bersubsidi.

Terlebih lagi, kebijakan ini menyebabkan peningkatan signifikan untuk permintaan bahan bakar, dan karenanya menyebabkan tekanan besar pada defisit APBN (bahkan hal ini mengimplikasikan bahwa APBN secara langsung terhubung dengan harga minyak yang cenderung volatil). Alokasi-alokasi ekstra untuk memenuhi permintaan bahan bakar bersubsidi yang meningkat dilakukan setiap tahunnya, sementara harga penetapan yang rendah menyebabkan distorsi pasar. Pengurangan atau penghapusan subsidi bahan bakar adalah isu yang sangat sensitif di Indonesia karena hal ini menyebabkan demonstrasi masal di seluruh negeri (mengimplikasikan risiko-risiko politik untuk elit yang memerintah).

Setelah dua kenaikan harga bahan bakar bersubsidi di Juni 2013 dan November 2014 (memicu inflasi tinggi dan demonstrasi), Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk menghapuskan subsidi bensin pada Januari 2015 (sebuah tindakan yang relatif mudah karena rendahnya harga minyak bumi dunia pada awal 2015) sambil memperkenalkan subsidi tetap sebesar Rp 1.000 per liter untuk diesel. Tindakan ini didukung oleh organisasi-organisasi internasional seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).

Kontribusi Minyak untuk Perekonomian Domestik Indonesia

Sektor minyak dan gas Indonesia secara rutin berkontribusi signifikan untuk perekonomian Indonesia melalui pendapatan ekspor dunia dan cadangan devisa negara. Kendati begitu, karena kontribusi minyak telah menurun selama satu dekade terakhir, begitu pula dengan kontribusinya untuk APBN, Saat ini, kombinasi minyak dan gas berkontribusi untuk sekitar 13% dari pendapatan domestik (di tahun 1990 angka ini mencapai 40%). Seperti yang disebutkan di atas, sektor minyak saat ini sebenarnya menghambat perekonomian Indonesia untuk mencapai level pertumbuhan yang lebih tinggi.

Menurut informasi dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), cadangan minyak mentah terbukti yang ada saat ini akan bertahan untuk sekitar 23 tahun. Kebanyakan produksi minyak di Indonesia dilaksanakan oleh para kontrakor asing menggunakan pengaturan kontrak pembagian produksi. Chevron Pacific Indonesia, anak perusahaan Chevron Corporation, adalah produsen minyak mentah terbesar di negara ini, berkontribusi sekitar 40% dari produksi nasional. Pemain-pemain besar lainnya di industri minyak Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina, Total, ConocoPhillips, PetroChina, CNOOC, Medco, BP, Kodeco, dan Exxon Mobil.

Sumber: indonesia-investments.com

Sumber Gambar: listrikindonesia.com

Share This

Artikel Terkait Lainnya