ForexSignal88.com l Jakarta, 08/06/2017 – Salah satu mata uang kriptografi yang populer adalah Bitcoin. Adalah mata uang desentralisasi yang menggunakan teknologi peer-to-peer, yang memungkinkan semua fungsi seperti penerbitan mata uang, proses transaksi dan verifikasi harus dilakukan secara kolektif oleh dan dalam jaringan. Sementara kelebihan dari desentralisasi ini membuat Bitcoin bebas dari manipulasi atau campur tangan pemerintah. Sebaliknya, kekurangan dari desentralisasi adalah bahwa tidak ada otoritas sentral untuk memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan lancar atau untuk mendukung nilai Bitcoin itu sendiri.

Bitcoin diciptakan secara digital melalui proses “pertambangan”(mining) yang membutuhkan komputer yang kuat untuk memecahkan algoritma kompleks dan angka-angka krisis. Mining dibuat pada tingkat 25 Bitcoin setiap 10 menit dan akan ditutup pada tingkat 21 juta, diperkirakan bisa dicapai pada tahun 2140.

Karakteristik inilah yang membuat Bitcoin secara fundamental berbeda dari mata uang kertas. Penerbitan mata uang kertas adalah kegiatan yang sangat terpusat yang diawasi oleh bank sentral suatu negara. Sementara bank mengatur jumlah mata uang yang dikeluarkan sesuai dengan tujuan kebijakan moneter, secara teoritis tidak ada batas atas untuk jumlah penerbitan mata uang tersebut. Selain itu, cadangan mata uang lokal umumnya diasuransikan oleh lembaga pemerintah jika terjadi kegagalan bank. Bitcoin tidak memiliki mekanisme dukungan seperti itu.

Nilai Bitcoin adalah sepenuhnya tergantung pada kemauan investor untuk bersedia membayar pada suatu titik waktu tertentu. Selain itu, jika setelah terjadi pertukaran Bitcoin, klien yang melakukan pertukaran tidak dapat mendapatkan Bitcoin mereka kembali, walau nilai Bitcoin meningkat.

Manfaat utama Bitcoin tentang desentralisasi dan anonimitas transaksi juga telah menjadikannya sebagai mata uang favorit. Ada juga yang memanfaatkannya untuk sejumlah kegiatan ilegal termasuk pencucian uang, menjajakan narkoba, penyelundupan dan pengadaan senjata. Di sinilah kekhawatiran pemerintah secara global dan menarik perhatian lembaga pemerintah yang kuat dan peraturan lainnya seperti Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN), SEC, dan bahkan FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).

Beberapa di antaranya adalah FinCEN mengeluarkan aturan yang mendefinisikan pertukaran mata uang virtual dan administrator sebagai bisnis jasa pertukaran uang, sehingga dapat membawa Cryptocurrency ini ke dalam lingkup peraturan pemerintah. Lainnya adalah DHS membekukan akun dari Mt. Gox – pertukaran Bitcoin terbesar – yang waktu itu berdiri di Wells Fargo, dengan menyatakan bahwa pertukaran Bitcoin melanggar hukum anti pencucian uang. Berikutnya adalah Departemen Jasa Keuangan New York mengeluarkan surat panggilan untuk 22 perusahaan jasa pembayaran yang memiliki fitur pembayaran Bitcoin, mempertanyakan tentang langkah-langkah mereka untuk mencegah pencucian uang dan menjamin perlindungan terhadap konsumen.

Di Indonesia sendiri, Bitcoin di awal kemunculannya sempat populer namun masih sedikit orang yang melirik dan mengkoleksinya. Mungkin karena tidak adanya aturan yang dapat melindungi konsumen dan rumor atau isu ilegal pada transaksi Bitcoin. Karena berbisnis Bitcoin adalah sepenuhnya kepercayaan saja. Pilihan di tangan Anda…

Sumber Gambar: kabarbisnis.com

Share This

Artikel Terkait Lainnya