ForexSignal88.com l Jakarta, 20/01/2018 – Sepanjang sesi perdagangan pekan lalu (15-19 Januari), dengan pengecualian pasangan mata uang GBP/USD dan AUD/USD karena keduanya menjadi pasangan mata uang terbaik di pekan lalu, dapat dikatakan perdagangan dolar AS terhadap rival-rival utamanya sedang berada di fase konsolidasi setelah selama lebih dari satu bulan mata uang AS tersebut tertekan.

Di awal pekan lalu sentimen pasar masih diwarnai oleh prospek pengetatan moneter bank-bank sentral utama selain Federal Reserve, terutama ECB. Namun setelah ada komentar yang terdengar dovish dari Ewald Nowotny, ekonom dan politikus Austria yang menjadi salah satu anggota dewan kebijakan European Central Bank (ECB), yang mengutarakan kekhawatirannya terhadap penguatan euro belakangan ini, dolar AS mulai mendapat angin segar.

Selanjutnya pergerakan di bursa forex sejenak diwarnai penguatan dolar AS terhadap beberapa rivalnya, yang juga berimbas pada merosotnya harga emas dan komoditas lain yang berdenominasi dolar AS.

Tak lama kemudian, perhatian pasar beralih dari moneter ke politik AS. Penguatan dolar AS masih berlanjut di hari Jumat tatkala tersiar kabar dari CNBC bahwa Presiden AS Donald Trump mengundang pemimpin Senate Chuck Schumer untuk menyelesaikan sebuah kesepakatan guna menghindari penutupan pemerintah (government shutdown).

Namun, dolar AS gagal untuk terus memanfaatkan berita tersebut karena laporan sebelumnya menunjukkan bahwa Demokrat dan sebagian kecil dari Partai Republik dapat memblokir sebuah undang-undang sementara yang disahkan House (DPR AS) pada hari Kamis dan aksi mereka itu dapat memaksa pemerintah AS untuk melakukan shutdown, yang berpotensi menjadi beban bagi upaya pemulihan greenback di tengah kondisi dan sentimen pasar yang sejak pertengahan Desember bearish terhadap mata uang tersebut.

Pada akun Twitter-nya di Jumat malam waktu AS, Presiden Trump menyebut, “Tidak bagus untuk militer atau keamanan kita yang hebat di perbatasan selatan yang berbahaya. Dems (Demokrat) menginginkan shutdown untuk mengurangi sukses besar dari pemotongan pajak dan dampaknya pada ekonomi kita yang sedang menanjak.”

Namun apa mau dikata, pada Sabtu (20/1) saat jurnal ini ditulis, tersiar kabar aksi para penentang undang-undang sementara itu terwujud dan government shutdown pun ikut menghiasi peringatan satu tahun pelantikan Trump sebagai presiden AS.

Shutdown terakhir kalinya terjadi di AS pada bulan Oktober 2013 berlangsung lebih dari dua minggu dan menyebabkan lebih dari 800.000 pegawai federal dirumahkan.

Administrasi Trump mengatakan lebih dari 1.000 dari 1.715 staf di Gedung Putih akan dirumahkan jika pemerintah melakukan shutdown. Presiden Trump tetap akan diberi dukungan staf yang cukup untuk menjalankan tugas konstitusionalnya, termasuk staf yang dibutuhkan untuk perjalanannya yang akan datang ke World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada pekan depan.

Dampak shutdown di sektor keuangan juga akan terlihat. Securities and Exchange Commission (SEC) atau pengawas bursa saham AS bakal mendanai operasionalnya dengan mengumpulkan dana dari industri keuangan, namun anggarannya ditetapkan oleh Kongres.

Di masa lalu SEC dapat melanjutkan operasinya sementara dalam sebuah shutdown akan tetapi harus merumahkan para stafnya jika Kongres akhirnya berminggu-minggu belum juga menyetujui pendanaan baru.

Sementara itu Commodity Futures Trading Commission (Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS) harus segera mengurangi 95 persen dari para karyawannya.

Dampak dari apa yang terjadi di Washington baru akan terlihat di awal pekan depan. Selain politik AS tersebut, pekan depan bursa forex dan emas akan dihiasi beberapa data dan agenda penting dari beberapa ekonomi besar seperti perhelatan WEF, keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ), keputusan suku bunga ECB serta data PDB UK dan AS. 

EURUSD

 FS88 JOURNAL EUR TEMPLATE

 

WEEKLY OUTLOOK : POSITIF

O : 1.2195     H : 1.2323      L : 1.2165      C : 1.2221

PERGERAKAN SEPEKAN 15/01 – 19/01 : POSITIF

RANGE SEPEKAN : 158 PIP

Secara Fundamental, Jens Weidmann dari Bundesbank menyatakan persetujuannya pada rencana bank sentral eropa (ECB) untuk mengakhiri Quantitative Easing (QE). Pasalnya, Vitor Constancio, Wakil Presiden ECB, justru khawatir kalau Euro tidak bergerak selaras dengan fundamental ekonomi dan menyarankan agar ECB tak buru-buru merubah kebijakan. Pelemahan Dolar AS dan meningkatnya optimisme pasar pada perbaikan ekonomi Eropa di awal tahun 2018 ini telah mendorong Euro reli ke puncak tertinggi tiga tahun, melanjutkan kenaikan yang dialami sepanjang tahun lalu. Namun, laju penguatan nilai tukar Euro yang mencapai lebih dari 3 persen dalam dua pekan terakhir, menciptakan kekhawatiran tersendiri dari para pejabat ECB. 

Beberapa hari yang lalu, Presiden Bank Sentral Prancis sekaligus anggota penyusun kebijakan ECB, Francoise Villeroy de Galhau, mengatakan, "...evolusi nilai tukar baru-baru ini adalah sumber ketidakpastian yang perlu dipantau terkait kemungkinan dampaknya terhadap harga-harga barang impor." 

Pernyataan tersebut terkait dengan fakta bahwa Euro telah terapresiasi lebih dari 15 persen terhadap Dolar AS tahun lalu, sehingga harga barang-barang impor penting, seperti Minyak makin murah di Zona Euro. Akibatnya, harga energi menjadi lebih rendah dan laju inflasi yang dihitung dari kenaikan harga-harga barang dan jasa dalam periode tertentu mengalami kesulitan untuk mencapai target inflasi dua persen yang telah ditentukan ECB. 

Rabu siang pekan kemarin, giliran Vitor Constancio mengungkapkan kerisauannya dalam sebuah wawancara dengan media Italia, La Repubblica. Mantan Gubernur Bank Sentral Portugal ini menyatakan, "Saya khawatir pada pergerakan mendadak yang tidak merefleksikan perubahan dalam fundamental," saat ditanya mengenai kuatnya Euro akhir-akhir ini. Lanjutnya juga, "Jika melihat fundamental, inflasi agak menurun di bulan Desember." 

Constancio juga mengirim sinyal kalau ECB akan mempertahankan kebijakan moneter longgar, termasuk pembelian obligasi (Quantitative Easing) hingga waktu lama. Katanya, "Kami melihat perlunya penyesuaian secara bertahap dalam semua elemen di panduan ke depan kami, jika ekonomi terus bertumbuh dan inflasi terus bergerak menuju target kami. Ini tidak berarti perubahan akan terjadi segera."

Menanggapi perbedaan pendapat antara Jens Weidmann dan Vitor Constancio, pakar strategi dari ING, Viraj Patel, mengatakan, "ECB memainkan 'good cop, bad cop' dalam komentar mereka mengenai Euro, tetapi tak diragukan lagi bahwa reli mata uang ini telah menyemai benih-benih ketidakpastian di benak para pengambil kebijakan ECB."  Sedangkan pakar strategi dari Morgan Stanley mengatakan dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters bahwa asalkan target inflasi tercapai dan pertumbuhan tetap kuat, apreasiasi Euro akan ditoleransi oleh ECB. 

Namun, dalam rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Zona Euro sore ini, nampak laju inflasi stagnan dengan CPI 1.4% YoY dan Core CPI 0.9% YoY di bulan Desember, meski sejalan dengan ekspektasi. Laju CPI bulanan tercatat 0.4%, sesuai ekspektasi dan masih sama dengan kenaikan di bulan November. Kenaikan hanya nampak pada Core CPI dalam basis bulanan yang meningkat 0.5%, lebih baik dari -0.1% di bulan November.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Uni Eropa, diantaranya :

  1. German ZEW Economic Sentiment        Selasa 23/01/2018 17:00 WIB
  2. German Flash Manufacturing PMI           Rabu 24/01/2018 15:30 WIB
  3. German Flash Services PMI                     Rabu 24/01/2018 15:30 WIB
  4. Flash Manufacturing PMI                           Rabu 24/01/2018 16:00 WIB
  5. Flash Services PMI                                     Rabu 24/01/2018 16:00 WIB
  6. German Ifo Business Climate                  Kamis 25/01/2018 16:00 WIB
  7. Minimum Bid Rate                                      Kamis 25/01/2018 19:45 WIB
  8. ECB Press Conference                             Kamis 25/01/2018 20:30 WIB
  9. M3 Money Supply y/y                                   Jumat 26/01/2018 16:00 WIB

 

Secara Teknikal, PENGUATAN pasangan harga EURUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BEARISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BEARISH pada level 1.2157, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.2094 – 1.2031 – 1.1968. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BULLISH pada level 1.2327, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PENGUATANnya ke area level 1.2384 – 1.2438 – 1.2495.

GBPUSD

FS88 JOURNAL GBP TEMPLATE 

WEEKLY OUTLOOK : POSITIF

O : 1.3730     H : 1.3495      L : 1.3726      C : 1.3863

PERGERAKAN SEPEKAN 15/01 – 19/01 : POSITIF

RANGE SEPEKAN : 219 PIP

Secara Fundamental, Poundsterling tembus ke level tertinggi sejak pertengahan tahun 2016 terhadap Dolar AS pada sesi perdagangan sepekan kemarin, seusai pengesahan legislasi Brexit tahap pertama di Parlemen. Apalagi, pada hari Rabu pekan malam kemarin, anggota komite kebijakan moneter bank sentral Inggris, Michael Saunders, menyampaikan pidato yang bernada optimis mengenai perekonomian Inggris tahun ini. Dalam sebuah pidato di London, Michael Saunders mengatakan bahwa pengangguran di Inggris dalam tahun 2018 kemungkinan akan jatuh ke tingkat yang lebih rendah dibanding ekspektasi BoE dan mayoritas ekonom, sehingga mendorong pertumbuhan gaji karyawan mendekati laju tertingginya sejak krisis finansial. Oleh karena itu, meski outlook jangka pendek cenderung beragam karena Inggris sedang bersiap-siap untuk meninggalkan Uni Eropa, tetapi perekonomian masih bisa berekspansi dan menciptakan laju inflasi lebih tinggi. "Menyeimbangkan sisi positif dan negatif, outlook jangka pendek bagi perekonomian tidaklah hebat, tetapi juga tidak buruk sekali," kata Saunders, sebagaimana dikutip oleh Reuters. Lanjutnya lagi, "Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi sekitar 1.5 sampai 2.0 persen year-on-yearper tahun lalu, bisa jadi cukup untuk memperketat pasar tenaga kerja lebih lanjut secara signifikan." 

Ia memperkirakan Tingkat Pengangguran akan turun ke 4 persen atau lebih rendah lagi pada tahun ini, dari 4.3% pada kuartal ketiga tahun 2017 lalu. Estimasi Saunders ini lebih rendah dibanding forecast BoE pada bulan November yang memproyeksikan penurunan pengangguran ke 4.2% pada akhir 2017 dan stagnan pada level itu di sepanjang tahun 2018.  Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Saunders setuju dengan arah kebijakan BoE saat ini bahwa suku bunga kemungkinan perlu meningkat secara "terbatas dan bertahap" dari waktu ke waktu. 

Perlu diketahui, setelah BoE menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam satu dekade di bulan November lalu, bank sentral tersebut mengindikasikan kesepakatan pada ekspektasi kenaikan suku bunga sebanyak dua kali lagi sebelum akhir tahun 2020. Mayoritas ekonom yang disurvey Reuters di awal Desember 2017, juga memprediksi bahwa kenaikan suku bunga BoE berikutnya bisa terjadi pada akhir tahun 2018. Kabar baik bagi Poundsterling juga muncul dari isu Brexit yang selama ini membebaninya. Rancangan Undang-Undang Brexit akhirnya lolos voting di House of Commons (Majelis Rendah dalam Parlemen Inggris) pada Rabu malam pekan kemarin.

Berikutnya, RUU yang memuat tanggal resmi Brexit pada 29 Maret 2019 tersebut akan dibahas di House of Lords (Majelis Tinggi) dimana sebagian wakil rakyat telah menyampaikan ketidaksetujuannya.  Di sisi lain, Presiden European Commission, Jean-Claude Juncker, dan presiden European Council, Donald Tusk,  menyatakan siap untuk membantu Inggris masuk lagi ke dalam Uni Eropa, meski kelak sudah keluar. Keduanya beralasan bahwa kepergian Inggris dari Uni Eropa merugikan kedua belah pihak, dan akan lebih baik bila Inggris bergabung kembali di kemudian hari. Selentingan dari kedua tokoh Uni Eropa ini meningkatkan harapan pasar akan soft Brexit.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Inggris, diantaranya :

  1. Public Sector Net Borrowing         Selasa 23/01/2018 16:30 WIB
  2. Average Earnings Index 3m/y       Rabu 24/01/2018 16:30 WIB
  3. Claimant Count Change                Rabu 24/01/2018 16:30 WIB
  4. Unemployment Rate                      Rabu 24/01/2018 16:30 WIB
  5. Prelim GDP q/q                                Jumat 26/01/2018 16:30 WIB

Secara Teknikal, PENGUATAN pasangan harga GBPUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BEARISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BEARISH pada level 1.3731, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.3664 – 1.3593 – 1.3516. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BULLISH pada level 1.3953, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PENGUATANnya ke area level 1.4020 – 1.4087 – 1.4154.

AUDUSD

 FS88 JOURNAL AUD TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK :  POSITIF

O : 0.7902     H : 0.8037      L : 0.7902      C : 0.7993

PERGERAKAN SEPEKAN 15/01 – 19/01 : POSITIF

RANGE SEPEKAN : 135 PIP

Secara Fundamental, Westpac-Melbourne Institute merilis data Tingkat Kepercayaan Konsumen untuk bulan Januari 2018 dengan kenaikan sebesar 1.8% dari 103.3 ke 105.1. Meski kenaikan ini relatif rendah dibandingkan bulan Desember lalu yang mencapai 3.6%, tetapi masih disikapi positif, mengingat hasil ini mengangkat Tingkat Kepercayaan Konsumen mencapai level tertingginya selama 4 tahun terakhir. Matthew Hasan, Westpac Senior Economist berpendapat, "Tingkat sentimen terus pulih semenjak September tahun lalu. Hal ini didukung dengan tingkat suku bunga yang tidak terlalu mengancam, serta meningkatnya kepercayaan pada sektor ekonomi dan lapangan pekerjaan".

Hassan juga menambahkan bahwa awal tahun ini merupakan awal tahun paling positif sejak 2010 lalu. Selain itu, pada sesi perdagangan pekan kemarin Australian Bureau of Statistics juga merilis data tingkat Home Loans Australia MoM pada November lalu dengan peningkatan sebesar 2.1%, naik jauh dari bulan Oktober yang berkurang sebesar 0.6%. Sementara itu, tingkat investasi untuk Housing Finance mengalami penurunan pada kisaran 1.5%, turun 0.1% dari bulan Oktober lalu yang mencapai 1.6%. Meski konsumen di Australia masih tetap berada di bawah beban hutang yang besar serta biaya perumahan yang begitu tinggi, meningkatnya tingkat kepercayaan konsumen ini diharapkan mampu mempercapat pencapaian terhadap target inflasi.  

Menurut David Cottle dari DailyFx, Aussie secara teknikal masih bertahan pada tren naiknya terhadap Dolar AS. Kenaikan ini sudah berlangsung sejak 10 Desember tahun lalu. Namun, kenaikan dianggap sudah mulai melemah dan kemungkinan akan sedikit mencari nafas ke bawah untuk mungkin melanjutkan perjalanan ke atas. Indikator Momentum menunjukkan bahwa pasangan mata uang ini telah berada dalam posisi overboughtdi grafik harian-nya. Perlu diperhatikan pula bahwa kenaikan ini sudah mendekati area dimana pada tahun lalu, RBA menyampaikan rasa khawatir mengenai dampak kekuatan mata uang yang berlebihan terhadap pencapaian target inflasinya. 

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Australia, diantaranya :

  1. MI Leading Index                             Rabu 24/01/2018 06:30 WIB
  2. CB Leading Index                            Rabu 24/01/2018 10:30 WIB

Secara Teknikal, PENGUATAN pasangan harga AUDUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BEARISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BEARISH pada level 0.7928, kemungkinan harga akan kembali ke level 0.7885 – 0.7841 – 0.7796. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BULLISH pada level 0.8039, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PENGUATANnya ke area level 0.8080 – 0.8119 – 0.8159.

XAUUSD

 FS88 JOURNAL XAU TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK : NETRAL

O : 1336.75   H : 1344.55   L : 1324.10    C : 1332.00

PERGERAKAN SEPEKAN 15/01 – 19/01 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : $20.45 atau 204,5 PIP

Secara Fundamental, Harga emas bergerak mendatar menjelang akhir pekan ini seiring dolar Amerika Serikat (AS) ditransaksikan di dekat level terendah dalam tiga tahun. Hal itu didorong meningkatnya kekhawatiran akan penutupan operasional pemerintahan AS. "Harga emas berada di level terendah seiring dolar AS melemah dan kecemasan pasar atas kemungkinan penghentian operasional pemerintah AS," ujar Lukman Otunaga, Analis FXTM Lukman Otunaga, seperti dikutip dari halaman Kitco, Sabtu (20/01/2018).

Ia menambahkan, ketika partai Republik segera mengumpulkan cukup suara untuk capai kesepakatan mendanai penerintah sebelum tengah malam sehingga dapat dukung harga emas. Direktur Perdagangan Global Kitco Peter Hug mengharapkan harga emas tetap didukung menjelang akhir pekan meski kekhawatiran akan penutupan operasional pemerintah meningkat. "Retorika tersebut semakin tinggi lantaran Demokrat terus menuntut kesepakatan mengenai DACA sebagai bagian dari perpanjangan pendanaan. Dolar AS alami aksi jual cepat dan emas menguat. Volatilitas akan meningkat sepanjang hari dan pelaku pasar cenderung masuk saat akhir pekan," jelas Hug.

Harga emas di pasar spot pun ditransaksikan di kisaran US$ 1.333,30 atau cenderung mendatar. Harga emas meski sedikit turun, namun tetap berada di level tertinggi dalam empat bulan. Sedangkan di pasar Comex, harga emas untuk pengiriman Februari naik 0,51 persen ke posisi US$ 1.334. Otunaga menambahkan, harga emas  berpotensi kembali menguat bila melihat harga emas secara teknikal. "Harga emas ditutup secara mingguan di atas US$ 1.340 dapat mendorong harga emas ke level US$ 1.360," ujar dia.

Dolar AS kian berada di bawah tekanan. Otunaga menuturkan, dolar AS cenderung melemah seiring ketidakpastian politik di AS. Hal itu bebani pergerakan nilai tukar mata uang. Indeks dolar AS turun 0,04 persen ke posisi 90,44. "Level 91 merupakan level resistance pada pekan ini dengan harus temui support di 90,30. Intraday di bawah 90,30 dapat mendorong pelemahan ke 90," ujar dia.

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga XAUUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1346.85, kemungkinan harga akan kembali ke level 1359.15 – 1370.90 – 1383.20. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1323.70, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1311.15 – 1300.10 – 13288.50.

 

Sumber: ForexSignal88.ComForexFactory.ComCFTC, Investing.ComBloomberg.ComKitco.ComOilnGold.Com

DailyFx.ComReuters.ComCNN.ComMarketWatch.ComAssociated Press Sumber Gambar: Washington Post

Tags: #forexsignal88 #signalforex #sinyalforex #forexsignal #analisaforex #analisagold #belajarforex #seputarforex #sekilasforex #eurusd #gbpusd #audusd #xauusd #signalforexharian #signalforexakurat #analisaforex #analisatradingforex #analisaforexharian #analisagold #beritaforexindonesia #beritaforexharian #beritaterkiniforex #analisajituforex #toptrendingforex #signalforexgratis #signalforexindonesia #tipsforex #trikforex #strategiforex #teknikforex #analisateknikal

Share This

Jurnal Mingguan Lainnya

October 13, 2018

Sekilas Forex: Melemah Pekan Kemarin, USD Butuh Berita Segar Untuk Pekan Depan

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 13/10/2018 - Perdagangan forex dan emas pekan lalu (8-12 Oktober) diawali dengan nada positif dolar AS sebagai reaksi pasar terhadap pelemahan di pasar global, yang dipimpin oleh jatuhnya ekuitas China, dan data-data ekonomi AS…
October 07, 2018

Sekilas Forex: Data Non Farm Payroll Lemah, Apakah USD Ikutan Melemah Pekan Depan?

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 07/10/2018 - Mengawali sesi perdagangan Oktober, dolar AS memberikan tekanan kepada sebagian rivalnya. Penguatan parsial dolar AS tersebut masih dimotori oleh euforia pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve pada…
September 29, 2018

Sekilas Forex: Suku Bunga AS Naik, dan Akan Naik 1 Kali Lagi Tahun 2018

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 29/09/2018 - Pekan terakhir September telah berlalu dan sepanjangnya pergerakan di bursa forex dan emas tetap diwarnai oleh beraneka berita terkait perang tarif impor AS-China, Brexit dan tingkat suku bunga AS. Dolar AS relatif…
September 22, 2018

Sekilas Forex: Perang Dagang dan Brexit Masih Menghantui Bursa Forex & Emas

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 22/09/2018 - Brexit dan perang dagang masih menjadi primadona berita pasar yang memikat hati para investor dan pedagang di bursa forex dan emas. Seperti di pekan sebelumnya, dolar AS memulai perdagangan pekan lalu (17-21…
September 15, 2018

Sekilas Forex: USD Masih Akan Fluktuatif Pekan Depan

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 15/09/2018 - Mengawali perdagangan pekan lalu (10-14 September), dolar AS mendapatkan tekanan mendadak lagi dari pound sterling, yang juga memicu penguatan mata uang lain dan harga emas, karena pada hari Senin (10/9) tersiar kabar…