ForexSignal88.com l Jakarta, 21/10/2018 - Memulai paruh kedua bulan Oktober, dolar AS merosot pada hari Senin (15/10) setelah data penjualan ritel AS untuk September meleset dari ekspektasi para ekonom. Penyebab lain merosotnya greenback adalah imbal hasil (yield) Treasury AS yang sedang berkonsolidasi setelah mencapai level tertinggi tujuh tahun pada minggu sebelumnya di 3,26 persen.

Penjualan ritel AS hampir naik pada bulan September karena naiknya pembelian kendaraan bermotor diimbangi oleh penurunan belanja di restoran dan bar dalam hampir dua tahun. Penjualan ritel AS tercatat naik tipis 0,1 persen dalam sebulan terakhir sedangkan para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan peningkatan sebesar 0,6 persen.

Angka ritel itu muncul setelah data pada pekan sebelumnya menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) AS naik kurang dari yang diharapkan pada bulan September, ditahan oleh lebih lambatnya kenaikan biaya sewa dan penurunan harga energi karena tekanan inflasi yang mendasari (underlying inflation) tampaknya mendingin.

Mata uang safe haven yen Jepang dan franc Swiss pun diuntungkan pada sesi tersebut karena saham-saham melemah dengan meningkatnya ketegangan antara kekuatan Barat dan Arab Saudi yang menambah kekhawatiran berlanjutnya kemerosotan saham global yang mulai terjadi di pekan sebelumnya.

Saudi berada di bawah tekanan sejak wartawan terkemuka kelahiran Madinah yaitu Jamal Khashoggi, seorang kritikus tajam terhadap Riyadh dan jurnalis Washington Post, menghilang pada 2 Oktober setelah mengunjungi konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Selain pelemahan dolar AS, harga emas pun terbantu oleh berita Khashoggi tersebut sehingga dapat mencapai harga tertinggi tiga bulan di $1.233,05 pada hari Senin, melanjutkan pendakiannya di minggu ketiga dan menegaskan kembali statusnya sebagai aset lindung nilai terhadap kombinasi ketegangan geopolitik, jatuhnya pasar ekuitas dan ketidakpastian makro global.

Selanjutnya dolar AS berhasil menguat tipis pada sesi perdagangan Selasa (16/10) setelah tiga indeks utama Wall Street masing-masing naik lebih dari 1,5 persen karena pendapatan (earnings) yang meningkat dari saham-saham blue chips seperti Johnson & Johnson dan Goldman Sachs berhasil meredakan kegelisahan pasar atas dampak kenaikan suku bunga Federal Reserve dan biaya lainnya terhadap laba perusahaan-perusahaan.

Risk-on yang lebih baik juga mengurangi permintaan untuk mata uang safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss yang sempat terbantu oleh kekhawatiran pasar tentang meningkatnya ketegangan antara kekuatan Barat dan Arab Saudi terkait berita hilangnya Khashoggi memang telah membebani pasar keuangan di minggu lalu.

Pada hari Rabu (17/10), dolar AS kembali mendemonstrasikan kekuatannya, didukung oleh hawkish-nya catatan hasil rapat kebijakan FOMC The Fed. Pada rapat di bulan September bank sentral AS menegaskan bahwa kemungkinan pihaknya akan terus menaikkan suku bunga di tahun ini.

Peluang Kenaikan Suku Bunga AS di Akhir 2018

Setiap pembuat kebijakan di The Fed mendukung kenaikan suku bunga pada bulan lalu dan juga pada umumnya setuju bahwa biaya pinjaman akan meningkat lebih lanjut. Kabar tersebut membuat para pedagang suku bunga berjangka melihat peluang 83 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed di bulan Desember, kenaikan keempat di tahun ini, dan setidaknya dua kenaikan lagi di tahun depan.

Pada perdagangan di hari Kamis (18/10) indeks dolar AS bergerak pada level tertinggi lebih dari satu minggu karena yield Treasury diperdagangkan mendekati level tertinggi multi-tahun, setelah notulen dari pertemuan The Fed di bulan September menunjukkan bahwa pembuat kebijakan bank sentral AS sebagian besar sepakat pada kebutuhan untuk menaikkan biaya pinjaman lebih lanjut.

Langkah The Fed itu tetap diambil terjadi meskipun ada pandangan dari Presiden AS Donald Trump bahwa kenaikan suku bunga sudah terlalu jauh.

Dolar AS naik ke level tertinggi satu minggu terhadap euro pada hari Kamis setelah European Commission mengatakan rancangan anggaran Italia tahun 2019 adalah pelanggaran serius terhadap aturan anggaran yang ditetapkan UE.

Mata uang tunggal zona euro tersebut dan pound Inggris juga turun dengan asumsi bahwa pembicaraan di Brussels gagal menyelesaikan perselisihan Brexit antara London dan UE mengenai status perbatasan Irlandia, sebuah masalah yang memainkan peran yang semakin dominan dalam negosiasi kedua belah pihak.

Kemudian pada penutupan sesi pekan lalu (19/10) dolar AS mengalami tekanan balik yang mayoritas terpicu oleh motif teknikal. Dolar AS juga lebih rendah pada hari Jumat karena imbal hasil obligasi terus mendekati level tertinggi satu minggu, sementara euro lebih tinggi.

GBPUSD menguat di sesi tersebut meskipun potensi hard Brexit semakin terlihat. Euro terangkat sedikit setelah Komisaris Urusan Ekonomi Eropa Pierre Moscovici meremehkan perselisihan UE dengan anggaran Italia. Moscovici mengatakan UE hanya mengirim surat ke Roma dan itu akan menjadi proses panjang ke depannya. Italia diperkirakan akan membalas surat UE pada hari Senin.

Dolar Australia juga tampil menguat di sesi Jumat meskipun China membukukan PDB kuartal ketiga yang lebih rendah dari perkiraan. Demikian pula dengan harga emas yang naik tipis pada hari Jumat dan berada di jalur untuk kenaikan tiga minggu berturut-turut, didukung oleh momentum teknikal yang kuat dan dolar AS yang mengalami sedikit tekanan.

Catatan tim FS88 menunjukkan dolar AS menutup perdagangan sepekan lalu dengan penguatan parsial. Pasangan EURUSD berakhir negatif 0,45 persen, USDJPY positif 0,31 persen, GBPUSD negatif 0,68 persen, namun AUDUSD naik tipis 0,1 persen dan harga emas (XAUUSD) berakhir naik 0,69 persen.

EURUSD

 FS88 JOURNAL EUR TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK : NEGATIF CENDERUNG NETRAL  

O : 1.1542     H : 1.1621      L : 1.1432      C : 1.1506

PERGERAKAN SEPEKAN 15/10 – 19/10 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 189 PIP

Secara Fundamental, Fokus pasar sebagian besar pada pembicaraan Brexit yang sedang berlangsung di KTT dua hari Uni Eropa-Inggris. Negosiasi mengenai perpisahan Inggris dari Uni Eropa masih menemui jalan buntu. Perdana Menteri Inggris Theresa May berbicara kepada para pemimpin Uni Eropa di Brussels Rabu malam dan meyakinkan mereka bahwa kedua pihak masih bisa mencapai kesepakatan.

Meskipun demikian, para pemimpin di KTT Brussels dibuat frustrasi karena Inggris gagal menawarkan proposal baru untuk menjawab permasalahan perbatasan Irlandia yang berlarut-larut. Kedua belah pihak telah sepakat untuk tetap bernegosiasi, dan KTT kali ini tidak cukup waktu untuk mencapai kata sepakat sehingga akan diteruskan di KTT khusus bulan depan.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Uni Eropa, diantaranya :

  1. Flash Manufacturing PMI Rabu 24/10/2018 Pk 15:00 WIB
  2. Flash Services PMI Rabu 24/10/2018 Pk 15:00 WIB
  3. M3 Money Supply Rabu 24/10/2018 Pk 15:00 WIB
  4. German Ifo Business Kamis 25/10/2018 Pk 15:00 WIB
  5. Main Refinancing Rate Kamis 25/10/2018 Pk 18:45 WIB
  6. ECB Press Conference Kamis 25/10/2018 Pk 19:30 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga EURUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.1555, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.1602 – 1.1646 – 1.1687. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.1428, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.1387 – 1.1347 – 1.1306.

 

GBPUSD

 FS88 JOURNAL GBP TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK :  NEGATIF CENDERUNG NETRAL

O : 1.3086     H : 1.3235      L : 1.3010      C : 1.3062

PERGERAKAN SEPEKAN 15/10 – 19/10 : DOJI NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 225 PIP

Secara Fundamental, Menurut laporan Badan Statistik Nasional (ONS) Inggris pada Selasa pekan kemarin pendapatan rata-rata pekerja Inggris yang tidak termasuk bonus mengalami kenaikan. Dalam jangka waktu tiga bulan hingga Agustus 2018, indeks upah rata-rata pekerja (Average Earning Index) naik 2.7 persen menjadi 523 pound per minggu. Angka tersebut lebih tinggi daripada periode sebelumnya yang naik sebanyak 2.6 persen, dan lebih tinggi daripada ekspektasi pasar. Sedangkan pendapatan rata-rata yang memasukkan bonus, juga naik menjadi 3.1 persen dalam pengukuran periode yang sama.

Namun CPI (tingkat inflasi) Inggris tahunan turun menjadi 2.4 persen di bulan September 2018, dari sebelumnya di 2.7 persen. Angka tersebut juga di bawah ekspektasi pasar di 2.6 persen. Artinya, CPI Inggris bulan ini kembali ke level rendah tiga bulan lalu. Penyebabnya adalah menurunnya harga makanan, transportasi dan rekreasi, serta harga pakaian.

Dalam basis bulanan (MoM), Penjualan Ritel Inggris turun ke minus 0.8 persen di bulan September 2018. Data tersebut lebih rendah daripada ekspektasi penurunan ke minus 0.4 persen, dan angka periode sebelumnya yang 0.4 persen. Penyebab utama turunnya Penjualan Retail Inggris ini adalah penjualan makanan yang jatuh hingga 1.5 persen, level penurunan terbesar sejak bulan Oktober 2015.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Inggris, diantaranya :

  1. CBI Realized Sales Kamis 25/10/2018 Pk 17:00 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga GBPUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.3143, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.3192 – 1.3240 – 1.3294. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.3001, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.2950 – 1.2899 – 1.2847.

 

AUDUSD

 FS88 JOURNAL AUD TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK : POSITIF CENDERUNG NETRAL 

O : 0.7111     H : 0.7158      L : 0.7087      C : 0.7116

PERGERAKAN SEPEKAN 15/10 – 19/10 : POSITIF

RANGE SEPEKAN : 71 PIP

Secara Fundamental, Notulen RBA (Bank Sentral Inggris) untuk rapat yang telah digelar pada tanggal 2 Oktober lalu, menunjukkan bahwa sejumlah anggota bank sentral tersebut mencatat kemungkinan untuk memperketat lagi kondisi pinjaman. RBA juga mempertimbangkan pentingnya pengawasan suplai kredit di masa depan, demi memastikan bahwa aktivitas ekonomi masih terdukung dengan semestinya.

Secara umum, bank sentral yang masih mempertahankan suku bunga di level 1.5 persen tersebut masih berpandangan optimistis. Langkah selanjutnya, suku bunga RBA akan dinaikkan, tetapi tidak dalam waktu dekat ini. Pelemahan Dolar Australia dalam tingkat sedang dalam beberapa waktu terakhir, dinilai RBA cukup membantu pertumbuhan ekonomi Australia.

Departemen Stastistik Australia pada Kamis (18/10) kemarin juga merilis data Tingkat Pengangguran yang turun sebanyak 0.3 persen menjadi 5.0 persen pada bulan September. Rilis tersebut lebih rendah dibandingkan forecastekonom dalam sebuah jajak pendapat, yang sebelumnya memprediksi Unemployment Rate Negeri Kangguru akan mencapai 5.3 persen, tidak berubah dari bulan lalu.

Penurunan tajam tingkat pengangguran Australia dikarenakan merosotnya jumlah angkatan kerja sebanyak 31.6k. Kini, angkatan kerja Australia hanya berjumlah 13.3 juta. Menurut ekonom, yang terpenting saat ini adalah ketika tingkat pengangguran telah berada di area ideal yang sesuai dengan perkiraan RBA. Sebelumnya, bank sentral tersebut memperkirakan bahwa pada titik tingkat pengangguran seperti kali ini, upah dan inflasi akan mulai terangkat naik, dikenal juga dengan istilah Non-Accelerating Inflation Rate of Unemployment (NAIRU) jangka pendek.

Departemen terkait secara bersamaan juga merilis Employment Change yang hanya bertambah 5.6k di bulan September, berada di bawah ekspektasi ekonom untuk pertumbuhan pekerjaan sebanyak 15.2k. Rilis Employment Change Australia bulan September jauh lebih lambat jika mengacu pada kenaikan sebesar 44.6k pekerjaan di bulan Agustus. Perlambatan pertumbuhan pekerjaan kali ini disebabkan oleh adanya penurunan pekerjaan paruh waktu sebesar 14.7k. Namun dalam periode yang sama, pekerjaan full-time bertambah sebanyak 20.3k.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Australia, diantaranya :

  1. CB Leading Index Senin 22/10/2018 Pk 09:30 WIB

Secara Teknikal, PENGUATAN pasangan harga AUDUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BEARISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BEARISH pada level 0.7080, kemungkinan harga akan kembali ke level 0.7031 – 0.6984 – 0.6934. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BULLISH pada level 0.7164, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PENGUATANnya ke area level 0.7211 – 0.7263 – 0.7312.

 

XAUUSD

 FS88 JOURNAL XAU TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK : POSITIF CENDERUNG NETRAL 

O : 1203.00   H : 1226.10   L : 1182.90    C : 1217.70

PERGERAKAN SEPEKAN 15/10 – 19/10 : POSITIF

RANGE SEPEKAN : $43.2 atau 432 PIP

Secara Fundamental, Harga emas berjangka sedikit tertekan dan bergerak sideways menyambut akhir pekan. Namun, selama sepekan, harga emas cenderung menguat. Harga emas tersebut dibayangi pergerakan indeks dolar AS dan bursa saham Amerika Serikat (AS) yang bervariasi.

Selain itu, investor terus memantau ketegangan anggaran Italia di Eropa yang memiliki konsekuensi sentimen.

Harga emas untuk pengiriman Desember turun USD 1 atau 0,1 persen menjadi USD 1.229,10 per ounce usai bergerak bervariasi. Indeks dolar AS tergelincir 0,3 persen ke posisi 95,68. Sepanjang Oktober sudah naik 0,6 persen.

Pada tahun berjalan 2018, indeks dolar AS mendaki empat persen. Hal itu terjadi di tengah kenaikan suku bunga the Federal Reserve.

"Rata-rata pergerakan harga emas selama 100 hari terlihat menjanjikan. Jika berhasil, secara teknikal, aksi beli berlanjut sehingga dapat dorong harga emas," ujar Analis Commerzbank, Carsten Fritsch, seperti dikutip dari halaman Marketwatch, Sabtu (20/10/2018).

Italia masih berdebat dengan pejabat Komisi Eropa sehingga mempengaruhi imbal hasil obligasi Jerman dan Italia. Hal itu didorong kekhawatiran investor terhadap dampak anggaran Italia akan berimbas ke wilayah lainnya. Imbal hasil obligasi mencapai 3,37 persen.

"Harga emas mendapatkan dukungan dari peningkatan pelaku pasar hindari risiko sebagaimana terlihat bursa saham AS yang melemah. Konflik Italia dan Uni Eropa atas anggaran rancangan Italia pada 2019 juga terus meningkat. Pertanyaannya bagaimana utang Italia, terutama jika imbal hasil obligasi terus naik," ujar Fritsch.

Harga emas berjangka menguat 0,6 persen selama sepekan. Sedangkan sepanjang Oktober 2018, harga emas mendaki 2,8 persen. Pada tahun berjalan 2018, harga emas turun sekitar tujuh persen.

"Secara teknikal, emas memiliki keunggulan jangka pendek. Jeda minggu ini tidak bearish," ujar Analis Senior Kitco.com, Jim Wyckoff. Ia menuturkan, harga emas berada di posisi resistance USD 1.250. Sementara itu, harga perak untuk pengiriman Desember menguat 0,3 persen ke posisi USD 14,65 per ounce.

Secara Teknikal, PENGUATAN pasangan harga XAUUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BEARISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BEARISH pada level 1214.45, kemungkinan harga akan kembali ke level 1204.00 – 1193.95 – 1183.50. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BULLISH pada level 1234.10, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PENGUATANnya ke area level 1244.95 – 1255.85 – 1266.25.

Sumber: ForexSignal88.ComForexFactory.ComCFTC, Investing.ComBloomberg.ComKitco.ComOilnGold.Com

DailyFx.ComReuters.ComCNN.ComMarketWatch.ComAssociated Press Sumber Gambar: Wired.Com

Tags: #forexsignal88 #signalforex #sinyalforex #forexsignal #analisaforex #analisagold #belajarforex #seputarforex #sekilasforex #eurusd #gbpusd #audusd #xauusd #signalforexharian #signalforexakurat #analisaforex #analisatradingforex #analisaforexharian #analisagold #beritaforexindonesia #beritaforexharian #beritaterkiniforex #analisajituforex #toptrendingforex #signalforexgratis #signalforexindonesia #tipsforex #trikforex #strategiforex #teknikforex #analisateknikal

Share This

Jurnal Mingguan Lainnya

November 03, 2018

Sekilas Forex: Merkel, Brexit, dan BOE Gerakan Pasar Pekan Lalu. Kini Pasar Tunggu Midterm Election AS.

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 04/11/2018 - Aktivitas perdagangan forex dan emas pada pekan lalu (29 Oktober-2 November) di awali dengan naiknya nilai tukar dolar AS terhadap euro, mendekati level tertinggi 10 minggu yang dicetak pada pekan sebelumnya, di…
November 10, 2018

Sekilas Forex: Midterm Election AS dan Kenaikan Suku Bunga AS Semakin Dekat

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 10/11/2018 - Geliat bursa forex dan emas pada pekan lalu (5-9 November) sebagian besar dimotori oleh midterm election di Amerika Serikat (AS) atau dikenal pula sebagai pemilihan sela alias pemilihan jeda oleh media nasional di…
October 27, 2018

Sekilas Forex: 5 Perkembangan Forex Yang Penting Anda Ketahui

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 27/10/2018 - Dolar AS mengamuk di awal pekan lalu (22-26 Oktober), menekan semua rivalnya sekaligus membebani harga emas. Pemicu utama penguatan greenback adalah kemerosotan pound sterling di tengah meningkatnya ketidakpastian…
October 20, 2018

Sekilas Forex: Peluang 83% Untuk Suku Bunga AS Naik Lagi Di Desember 2018

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 21/10/2018 - Memulai paruh kedua bulan Oktober, dolar AS merosot pada hari Senin (15/10) setelah data penjualan ritel AS untuk September meleset dari ekspektasi para ekonom. Penyebab lain merosotnya greenback adalah imbal hasil…
October 13, 2018

Sekilas Forex: Melemah Pekan Kemarin, USD Butuh Berita Segar Untuk Pekan Depan

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 13/10/2018 - Perdagangan forex dan emas pekan lalu (8-12 Oktober) diawali dengan nada positif dolar AS sebagai reaksi pasar terhadap pelemahan di pasar global, yang dipimpin oleh jatuhnya ekuitas China, dan data-data ekonomi AS…