ForexSignal88.com l Jakarta, 29/09/2018 - Pekan terakhir September telah berlalu dan sepanjangnya pergerakan di bursa forex dan emas tetap diwarnai oleh beraneka berita terkait perang tarif impor AS-China, Brexit dan tingkat suku bunga AS.

Dolar AS relatif stabil terhadap rivalnya pada hari Senin (24/10), sedikit tertekan oleh pound sterling yang kuat di tengah harapan dari kesepakatan Brexit antara Inggris dengan Uni Eropa. Sedangkan euro gagal untuk terus mempertahankan penguatannya di sesi tersebut saat terdorong oleh komentar positif dari Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi.

Pound sterling sempat naik tipis pada hari yang sama, rebound dari penurunan tajam di sesi sebelumnya, terbantu oleh komentar positif dari pejabat Jerman yang memicu optimisme para investor bahwa Inggris dan Uni Eropa pada akhirnya bakal menorehkan kesepakatan tentang persyaratan untuk hubungan masa depan Inggris dengan blok tersebut.

Pejabat Jerman tersebut mengatakan bahwa kesepakatan Brexit masih mungkin untuk tercapai pada bulan November. Sementara ini pasar tampaknya mengasumsikan bahwa semacam kesepakatan pada akhirnya akan diraih dan pasar hanya bereaksi kuat jika no-deal Brexit atau hard Brexit terlihat tak dapat dihindari lagi yaitu saat keinginan Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk menyelesaikan kesepakatan digagalkan oleh pertimbangan politik.

Euro juga sempat lebih kuat terhadap dolar AS, terkerek oleh penilaian optimis mengenai zona euro dari Draghi, yang juga mengulangi rencana bank sentral Eropa untuk mengakhiri program pembelian obligasi besar-besaran pada akhir tahun.

Sementara itu penguatan mata uang negara-negara berkembang pun masih menjadi beban bagi dolar AS di awal pekan lalu karena lira Turki dan rand Afrika Selatan sedang menikmati rebound-nya, meskipun sebagian analis memperingatkan kenaikan lebih lanjut beberapa mata uang tersebut dapat tertahan oleh meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China.

Mata uang negara-negara berkembang lebih rentan terhadap dampak perang dagang Sino-AS daripada mata uang lainnya karena para investor asing cenderung memulangkan (repatriasi) uang mereka di tengah meningkatnya imbal hasil di pasar negara maju dan ekonomi pasar negara berkembang sedang berada di bawah prediksi.

China pun telah membatalkan pembicaraan perdagangan dengan AS, yang sebelumnya diperkirakan akan berlangsung pada minggu lalu, setelah kedua negara meluncurkan tarif atau bea masuk impor baru satu sama lain pada pekan sebelumnya.

Pada dua hari berikutnya pasar tampak berkonsolidasi menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve. Peningkatan indeks keyakinan konsumen AS ke level tertinggi hampir 18 tahun tidak banyak mengangkat greenback, meskipun para analis menggembar-gemborkan pertumbuhan ekonomi AS yang lebih kuat, dipimpin oleh belanja konsumen yang lebih kuat.

Indeks keyakinan konsumen dari Conference Board yang dirilis pada hari Selasa (25/10) naik menjadi 138,4 pada September dari 134,7 bulan lalu, mengalahkan perkiraan para ekonom yaitu 132,2. Secara keseluruhan, pertumbuhan belanja konsumen AS tampaknya solid dan akan menjadi penyumbang utama pertumbuhan pada kuartal ketiga, meskipun sedikit melambat dari laju kuartal kedua.

Selanjutnya pada Kamis (26/10) dini hari Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, sesuai perkiraan pasar, mengumumkan kenaikan suku bunga sebanyak 25 basis poin, menjadikan patkan biaya pinjaman di AS dari kisaran 2,0% menjadi 2,25%. Pada pernyataan kebijakannya, bank sentral AS tersebut juga menghilangkan kata “akomodatif.”

Pelemahan singkat dolar AS pun sempat terjadi yang menunjukkan bahwa sebagian investor tetap percaya bahwa salah satu langkah kebijakan FOMC adalah akan memulai menaikkan suku bunga lebih bertahap dibanding yang dilakukannya pada tahun lalu. Namun, penguatan dolar AS yang terjadi sesaat setelah reaksi awal tersebut menunjukkan bahwa para investor juga melihat sinyal dalam pernyataan The Fed tersebut bahwa suku bunga AS akan naik cukup besar untuk memperkuat mata uang AS lebih lanjut.

Pernyataan itu menyebut The Fed masih memperkirakan kenaikan suku bunga lainnya pada bulan Desember, tiga tahun lagi dan satu peningkatan lagi pada tahun 2020. The Fed juga mengatakan pihaknya tetap melihat pertumbuhan ekonomi AS dalam tiga tahun ke depan.

Beberapa analis melihat penghapusan istilah “akomodatif” memberi sinyal bahwa tingkat suku bunga netral mulai masuk ke dalam radar dan FOMC akan merasa perlu untuk menjustifikasi kebijakan moneter yang ketat di tahun mendatang, meskipun itu dianggap sebagai sebuah perkembangan yang agak dovish.

Jadi tidak adanya kata “akomodatif” dalam pernyataan itu menjadi sebuah alasan terjadinya penurunan awal dolar AS. Dalam pengarahan persnya, Ketua Fed Jerome Powell mengklarifikasi bahwa kata “akomodatif” dihapus sebagai tanda kebijakan moneter berjalan sesuai dengan harapan.

Powell mencatat bahwa dolar AS baru pulih sebagian dari penurunan pada tahun 2017. Beberapa analis mengatakan pandangan Powell tersebut menunjukkan bahwa The Fed yakin tren naik mata uang AS masih ada.

The Fed juga terlihat sangat terfokus pada kondisi domestik yang kuat dan tidak ada kekhawatiran terhadap dampak konflik perdagangan global atau gejolak pasar yang muncul baru-baru ini.

Keputusan dan pernyataan The Fed tersebut pun pada gilirannya menekan harga emas, sebuah komoditas safe haven yang cenderung tertekan saat bank-bank sentral utama, terutama The Fed, terus bergerak di jalur kenaikan suku bunga karena logam kuning tidak memberikan imbal hasil.

Penguatan dolar AS sempat berlanjut di sesi Jumat (28/10) namun kemudian melemah sedikit setelah indeks manajer pembelian Chicago jatuh ke 60,4 pada bulan September dari 63,6 bulan sebelumnya.

Data lain yaitu indeks ukuran inflasi yang disukai Federal Reserve, indeks pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditure/PCE) yang tidak termasuk makanan dan energi, mendatar pada bulan Agustus.

Data tersebut menjadi validasi pernyataan Ketua Fed Jerome Powell pada awal pekan lalu ketika ia mengklaim ada sedikit kemungkinan bahwa inflasi akan mengejutkan ke arah berlawanan, yang akan mendorong bank sentral tersebut untuk mengadopsi sikap yang lebih hawkish pada kebijakan moneter.

Namun pelemahan greenback pada hari Jumat terbatasi oleh pelemahan euro yang dipicu oleh masalah keuangan Italia. Pemerintahan populis Italia pada Kamis malam menunjukkan sedikit perhatian untuk mengatasi beban utang negara itu, menetapkan anggaran tahun depan sebesar 2,4% dari PDB, di atas apa yang diharapkan banyak orang, sekaligus mempertaruhkan reaksi dari para pembuat kebijakan Uni Eropa.

Akhirnya penguatan dolar AS di pekan lalu berhasil membuat mata uang lain ditutup negatif. Demikian pula harga emas yang sempat anjlok ke dekat $1180 per troy ounce, meskipun akhirnya pada akhir sesi Jumat ditutup positif pada basis harian tetap mencatatkan penutupan negatif pada kerangka waktu mingguan.

EURUSD

FS88 JOURNAL EUR TEMPLATE 

WEEKLY OUTLOOK : NEGATIF CENDERUNG NETRAL

O : 1.1747     H : 1.1815      L : 1.1569      C : 1.1608

PERGERAKAN SEPEKAN 24/09 – 28/09 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 246 PIP

Secara Fundamental, Peter Praet, salah seorang pejabat tinggi European Central Bank (ECB), pada sesi perdagangan pekan kemarin mengatakan bahwa risiko pertumbuhan Zona Euro mengalami peningkatan. Namun, hal tersebut menurutnya belum memberikan dampak yang berarti untuk saat ini, sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Tokoh yang memiliki andil besar dalam merancang kebijakan stimulus ECB ini mengatakan bahwa normalisasi kebijakan moneter tak akan bisa dilaksanakan lebih cepat. Pasalnya, inflasi masih terbilang lemah walaupun pertumbuhan Zona Euro telah mencetak rekor terbaik sejak krisis utang. Dalam pernyataannya, Praet juga menyinggung risiko politik menjelang pemaparan anggaran pemerintah Italia untuk tahun 2019 besok.

"Di Italia, kita sedang menghadapi pertentangan antara komunikasi, penyampaian, dan pelaksanaan," kata Praet. Pernyataan Praet tersebut dapat diartikan dovish. Ia menunjukkan bahwa ECB masih dapat mengakhiri pembelian obligasi masifnya di bulan Desember sesuai rencana, tetapi tidak bisa lebih cepat dari itu.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Uni Eropa, diantaranya :

  1. German Retail Sales Senin 01/10/2018 Tentatived Time

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga EURUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.1709, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.1763 – 1.1816 – 1.1867. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.1569, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.1521 – 1.1476 – 1.1428.

 

GBPUSD

 FS88 JOURNAL GBP TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK : NEGATIF CENDERUNG NETRAL

O : 1.3084     H : 1.3217      L : 1.3000      C : 1.3032

PERGERAKAN SEPEKAN 24/09 – 28/09 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 217 PIP

Secara Fundamental, Walaupun proposal Brexit dari PM Theresa May mendapat penolakan dari Uni Eropa pada 2 pekan lalu, Dominic Raab, Menteri Urusan Brexit masih berpandangan optimistis.

Senin awal pekan kemarin, Raab mengutarakan keyakinannya bahwa Inggris dapat membuat kemajuan dan menciptakan kesepakatan Brexit, meski pihaknya cuma memiliki waktu enam bulan sebelum hengkang secara resmi dari keanggotaan Uni Eropa.

Institusi dan bank internasional Goldman Sachs mengekspektasikan bahwa dalam jangka pendek, Poundsterling masih akan merefleksikan ayunan-ayunan yang menyertai kabar tentang Brexit. Bahkan jika ada sentimen buruk, bukan tak mungkin Pound akan turun drastis kembali.

Namun dalam jangka panjang, Goldman Sachs mengekspektasikan pemulihan nilai tukar Sterling masih cukup besar, karena kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Inggris dengan Uni Eropa masih cukup tinggi.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Inggris, diantaranya :

  1. Manufacturing PMI                         Senin 01/10/2018 Pk 15:30 WIB
  2. Net Lending to Individuals Senin 01/10/2018 Pk 15:30 WIB
  3. Construction PMI Selasa 02/10/2018 Pk 15:30 WIB
  4. Services PMI Rabu 03/10/2018 Pk 15:30 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga GBPUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.3226, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.3309 – 1.3387 – 1.3470. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.2990, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.2907 – 1.2824 – 1.2741.

 

AUDUSD

 FS88 JOURNAL AUD TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK : NEGATIF CENDERUNG NETRAL

O : 0.7260     H : 0.7312      L : 0.7199      C : 0.7225

PERGERAKAN SEPEKAN 24/09 – 28/09 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 113 PIP

Secara Fundamental, Performa Dolar Australia dalam dua pekan terakhir cukup impresif, karena AS dikabarkan telah mengundang China untuk kembali bernegosiasi. China awalnya menyambut positif undangan tersebut, sehingga mata uang komoditas seperti AUD pun semakin melambung.

Namun, keputusan Presiden Trump yang menaikkan kembali tarif impor barang membuat China membatalkan pembicaraan dengan AS. Alhasil, keputusan China tersebut langsung menimbulkan sentimen negatif terhadap Dolar Australia, yang dikenal sebagai 'proxy' Yuan China.

Capurso juga menambahkan bahwa sangat sedikit data ekonomi dari Australia yang rilis pada sesi perdagangan sepekan kemarin, sehingga selain kabar dari China, pengaruh utama yang menggerakkan AUD adalah pengumuman suku bunga Fed ( dirilis naik ke level 2.25% ) dan RBNZ ( dirilis tetap di level 1.75% ).

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Australia, diantaranya :

  1. Cash Rate                         Selasa 02/10/2018 Pk 11:30 WIB
  2. RBA Rate Statement Selasa 02/10/2018 Pk 11:30 WIB
  3. Building Approvals Rabu 03/10/2018 Pk 08:30 WIB
  4. Trade Balance Kamis 04/10/2018 Pk 08:30 WIB
  5. Retail Sales Jumat 05/10/2018 Pk 08:30 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga AUDUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 0.7309, kemungkinan harga akan kembali ke level 0.7366 – 0.7421 – 0.7476. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 0.7189, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 0.7135 – 0.7080 – 0.7022. 

XAUUSD

 FS88 JOURNAL XAU TEMPLATE

WEEKLY OUTLOOK : NEGATIF CENDERUNG NETRAL

O : 1197.55   H : 1203.95   L : 1180.60    C : 1191.45

PERGERAKAN SEPEKAN 24/09 – 28/09 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : $23.25 atau 232.5 PIP

Secara Fundamental, Data pertumbuhan ekonomi AS (GDP) pada pekan kemarin dilaporkan mengalami kenaikan yang tertinggi sejak hampir empat tahun terakhir. Sehingga, walaupun data Durable Goods Orders inti AS mengalami penurunan, Dolar AS tetap dapat menguat pada sesi perdagangan sepekan kemarin terhadap rival-rivalnya yang berlawanan dengan pergerakan indeks US dollar.

Di akhir bulan September 2018 ini, harga emas sudah mengumpulkan penurunan sebanyak 1.6 persen. Menurut para analis Reuters, Outlook jangka pendek harga emas masih bearish, karena Dolar AS masih memiliki potensi untuk menguat lagi di tengah perang bea impor dengan China. Selain itu, suku bunga The Fed yang terus naik membuat emas kian ditinggalkan oleh para investor yang beralih ke Dolar AS.

Meski tak banyak lagi kabar perkembangan perang dagang AS-China pasca penerapan bea impor ronde kedua tanggal 24 September lalu, kedua negara ini masih saling mengawasi satu sama lain. Yang terbaru, Presiden AS Donald Trump menuduh China campur tangan dalam persiapan Pemilu Parlemen AS pada November mendatang. Hal ini menambah panas hubungan AS-China, karena mulai merambah ke sektor politik.

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga XAUUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1210.25, kemungkinan harga akan kembali ke level 1221.10 – 1230.95 – 1240.95. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1181.30, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1169.95 – 1158.90 – 1148.00.

  

Sumber: ForexSignal88.ComForexFactory.ComCFTC, Investing.ComBloomberg.ComKitco.ComOilnGold.Com

DailyFx.ComReuters.ComCNN.ComMarketWatch.ComAssociated Press Sumber Gambar: TheAntiMedia.Com

Tags: #forexsignal88 #signalforex #sinyalforex #forexsignal #analisaforex #analisagold #belajarforex #seputarforex #sekilasforex #eurusd #gbpusd #audusd #xauusd #signalforexharian #signalforexakurat #analisaforex #analisatradingforex #analisaforexharian #analisagold #beritaforexindonesia #beritaforexharian #beritaterkiniforex #analisajituforex #toptrendingforex #signalforexgratis #signalforexindonesia #tipsforex #trikforex #strategiforex #teknikforex #analisateknikal

Share This

Jurnal Mingguan Lainnya

December 08, 2018

Sekilas Forex: NFP Bebani USD Menjelang Pengumuman Suku Bunga

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 09/12/2018 - Aset safe havens, selain dolar AS, merajai perdagangan forex dan emas di pekan lalu (3-7 Desember). Pelemahan dolar AS dimulai pada awal pekan lalu setelah muncul hasil negosiasi Presiden AS Donald Trump dan Presiden…
December 01, 2018

Sekilas Forex: Dari Perang Dagang Sampai Suku Bunga, Kemana USD Akan Bergerak Pada Pekan Depan?

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 02/12/2018 - Pada pekan terakhir November (26-30 November), tidak seperti di dua pekan sebelumnya, kabar Brexit kurang menghiasi aktivitas di bursa forex dan emas walaupun pada awal pekan tersebut sempat muncul kabar berupa…
November 17, 2018

BREXIT ALERT: Ancaman BREXIT Membuat Investor Kabur dari POUND

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 17/11/2018 - Di Indonesia masyarakat mengenal istilah “tahun politik” untuk mendefinisikan suatu masa yang dipenuhi berbagai aksi dan berita berbau politis. Mengadopsi istilah serupa, tidak ada salahnya jika sesi perdagangan pekan…
November 24, 2018

Sekilas Forex: USD Menolak Turun. Pekan Depan USD Berpotensi Untuk Naik Kembali

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 24/11/2018 - Mengawali sesi perdagangan pekan lalu (19-23 November) dolar AS masih menunjukkan pelemahan setelah di pekan sebelumnya dua pejabat berpengaruh Federal Reserve mengisyaratkan potensi kemunduran pertumbuhan ekonomi…
November 03, 2018

Sekilas Forex: Merkel, Brexit, dan BOE Gerakan Pasar Pekan Lalu. Kini Pasar Tunggu Midterm Election AS.

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 04/11/2018 - Aktivitas perdagangan forex dan emas pada pekan lalu (29 Oktober-2 November) di awali dengan naiknya nilai tukar dolar AS terhadap euro, mendekati level tertinggi 10 minggu yang dicetak pada pekan sebelumnya, di…