ForexSignal88.com l Jakarta, 24/02/2018 – Pada perdagangan sepekan lalu dolar AS atau greenback telah berhasil menguat terhadap mata uang utama dunia meskipun masalah kenaikan suku bunga the Fed masih simpang-siur berapa kali tahun ini akan naik.

Perdebatan 3 atau 4 kali mulai muncul sejak awal bulan ini dengan tanda naiknya pertumbuhan upah pekerja AS disertai pula klaim pengangguran pekan lalu yang ternyata merupakan klaim terendah sejak 45 tahun lalu. Perdebatan berapa kali suku bunga the Fed bisa naik membuat dolar AS sendiri juga maju mundur pergerakannya, namun fokus yang ternyata penting adalah pergerakan imbal hasil surat hutang pemerintah AS yang bergejolak dan membuat suasana hati investor panas dingin juga.

Sebetulnya imbal hasil obligasi ini mulai bergerak menguat sejak data nonfarm payroll rilis awal bulan ini. Sempat mereda pergerakannya, namun ketika Rabu lalu di saat the Fed memaparkan hasil notulen rapat suku bunganya, imbal hasil obligasi pemerintah melonjak melebihi level tertingginya sejak 1 dekade lalu, atau sesaat sebelum Lehman Brothers ditutup operasinya oleh pemerintah AS pada September 2008 dan kemudian terjadi krisis keuangan global yang panjang hingga 2009 dan membuat the Fed dan bank sentral dunia lainnya harus melonggarkan kebijakan moneternya secara serentak dan agresif.

Memang kondisi imbal hasil sangat mengkhawatirkan banyak ekonom dunia karena dengan imbal hasil atau yield yang sudah melewati level sebelum krisis, ditambah lagi dengan suku bunga acuan the Fed yang cenderung bergerak naik, membuat investor takut akan terjadinya kembali krisis keuangan seperti era 2008-2009 lalu. Beli dolar, lalu jual lagi, selalu berganti-ganti terjadi, namun seperti lazimnya seiring dengan imbal hasil obligasi yang menguat, tentu akan diikuti oleh penguatan mata uangnya.

Hasil notulen rapat suku bunga the Fed sendiri bercerita bahwa fokus kerja the Fed sangat mudah untuk mengetatkan kebijakan moneternya. Ini sebagai arahan bahwa kinerja ekonomi AS sangat mendukung naiknya suku bunga the Fed secara agresif, namun nada hawkish tersebut langsung mendapat perintah bahwa suku bunga bisa naik agresif bila sisi produktivitas bisa terjaga.

Bila sisi produktivitas AS tidak bisa diragukan lagi di mana kondisi tenaga kerja makin mengetat, kondisi pertumbuhan upah juga terus membaik meski tidak terlalu besar, kemudian aktivitas industri atau manufaktur AS juga mengarah ke arah ekspansi, itu semua juga terbantu dengan adanya program fiskal Trump seperti pemotongan pajak dan pembangunan infrastruktur yang berbiaya trilyunan dolar.

Yang pasti masa depan kenaikan suku bunga agresif bisa terjadi, sayangnya laporan the Fed kepada Kongres AS di akhir pekan lalu memberi arahan bahwa suku bunga tidak akan naik secara agresif, dan kami melihat bahwa pernyataan the Fed tersebut ingin menetramkan pasar, dan hal tersebut telah dibuktikan dengan kembali normalnya arah pergerakan imbal hasil Treasury sudah berjalan agak normal dan membuat investor agak tenang.

Memang kondisi dolar AS masih bimbang dengan menghadapi defisit kembarnya, sehingga secara teori keseimbangan mata uang berbasis neraca pembayaran memang dolar AS harus undervalued alias harus melemah, sesuai keinginan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin yang memang ingin dolar AS melemah agar beban anggarannya tidak berat.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Jepang masih cukup baik sehingga yen masih cukup handal di pekan lalu. Situasi neraca pembayaran dan neraca perdagangan Jepang yang lebih bagus daripada negara G7 lainnya, dipercaya membuat yen masih kuat, namun kondisi inflasinya yang masih rendah tentunya sisi normalisasi kebijakan moneternya masih jauh dari terjadinya.

Pound sterling sendiri sempat membaik di awal pekan lalu setelah ada sedikit bocoran bahwa parlemen Brussels akan memberikan kesepakatan transisi kepada Brexit sehingga kepastian masa depan ekonomi Inggris sedikit tercerahkan. Sayangnya beberapa data ekonomi seperti data tenaga kerja dan aktivitas konstruksinya tidak membaik sehingga kebijakan kenaikan suku bunga BoE akan sedikit tertunda.

Euro sendiri sepanjang pekan lalu sempat membaik dengan rasa optimis terselesaikan sisi politik di Jerman. Sayangnya kondisi ekonomi Eropa seperti tingkat inflasi dan aktivitas bisnis Jerman seperti data IFO-nya tidak begitu menggembirakan investornya sehingga normalisasi kebijakan moneternya masih akan tertunda. Seperti yang terungkap juga dari hasil paparan notulen rapat suku bunga ECB yang menganjurkan jadwal pengurangan stimulus ekonomi akan sesuai jadwalnya pada September nanti.

Kondisi dolar Kanada memang tidak sebagus pekan sebelumnya yang disebabkan oleh kinerja ekonomi Kanada yang tidak sebagus daripada periode sebelumnya.

Untuk minggu depan fokus investor tentu akan tertuju kepada laporan Jerome Powell ke depan Kongres dan Senat AS, serta pernyataan PM Theresa May untuk masalah Brexit. 

EURUSD

FS88 JOURNAL EUR TEMPLATE 

WEEKLY OUTLOOK :  NETRAL

O : 1.2403     H : 1.2435      L : 1.2260      C : 1.2295

PERGERAKAN SEPEKAN 19/02 – 23/02 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 175 PIP

Secara Fundamental, Lembaga riset terkemuka Markit melaporkan bahwa PMI Sektor Manufaktur Jerman untuk bulan Februari turun ke level 60.3 dari 61.1 di periode sebelumnya, lebih buruk dari estimasi awal pada 60.6; sementara Sektor Jasa lengser dari 57.3 ke 55.3 dan indeks Komposit melorot dari 59.0 ke 57.4. Penurunan juga terlihat pada PMI Manufaktur dan Jasa Prancis untuk periode yang sama. Penurunan yang lebih buruk dari ekspektasi mengindikasikan bahwa pelaku pasar boleh jadi agak berlebihan dalam mengevaluasi pemulihan ekonomi di kawasan untuk saat ini.

Namun, secara keseluruhan, PMI Komposit Zona Euro hanya menurun dari 58.8 ke 57.5. Angka berada di atas ambang batas 50.0, sehingga dapat dikatakan kalau perekonomian Zona Euro masih ekspansif. Chris Williamson, pimpinan ekonom bisnis di IHS Markit, mencatat dalam laporannya, "Pertumbuhan Zona Euro bulan Februari kehilangan sedikit momentum, tetapi laju ekspansi masih impresif, menempatkan wilayah ini pada jalur menuju kuartal terbaiknya dalam nyaris 12 tahun terakhir.

Pembacaan PMI untuk dua bulan paling awal dalam satu kuartal, umumnya menyediakan panduan yang bisa diandalkan bagi pertumbuhan GDP resmi, dan (data-data ini) mengindikasikan bahwa perekonomian Zona Euro berkembang dengan laju kuartalan 0.9% pada tiga bulan pertama tahun 2018.Optimisme juga diekspresikan oleh Presiden Eurogroup, Mario Centeno, dalam wawancara sebelum rilis data PMI ini.

Sebagaimana dikutip dari halaman Reuters, Centeno bahkan menyampaikan keyakinannya bahwa pertumbuhan area Euro akan berkelanjutan hingga tahun-tahun mendatang. Namun demikian, ia tak menyinggung mengenai semaraknya sentimen anti-Uni Eropa yang berkembang dalam beberapa waktu belakangan, termasuk dalam hubungannya dengan detik-detik menjelang Pemilu Italia.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Uni Eropa, diantaranya :

  1. German Prelim CPI                        Selasa 27/02/2018 All Day
  2. M3 Money Supply                 Selasa 27/02/2018 Pk 16.00 WIB
  3. CPI Flash Estimate             Rabu 28/02/2018 Pk 17.00 WIB
  4. Core CPI Flash Estimate   Rabu 28/02/2018 Pk 17.00 WIB
  5. German Retail Sales          Jumat 02/03/2018 Pk 14.00 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga EURUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.2426, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.2517 – 1.2615 – 1.2710. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.2246, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.2151 – 1.2069 – 1.1975.

 

GBPUSD

FS88 JOURNAL GBP TEMPLATE 

WEEKLY OUTLOOK : NETRAL

O : 1.4015     H : 1.4048      L : 1.3855      C : 1.3965

PERGERAKAN SEPEKAN 19/02 – 23/02 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 193 PIP

Secara Fundamental, UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa GDP Inggris (preliminer) pada kuartal IV/2017 hanya naik +0.4% dalam basis kuartalan. Padahal, sebelumnya pertumbuhan Quarter-over-Quarter (QoQ) diharapkan naik setinggi +0.5%, sama dengan periode sebelumnya. Dalam basis tahunan, GDP Inggris pun turun ke level +1.4%, atau terlemah sejak tahun 2013 meskipun awalnya diekspektasikan akan mencatat pertumbuhan 1.5%.

Kepala ekonom BoE Andy Haldane juga mengungkapkan dalam laporan tahunannya pada Parlemen, "Saya kira ada potensi untuk momentum yang lebih besar dari ekspektasi, pada inflasi dan pertumbuhan Inggris maupun global”, sehingga ia menyarankan agar suku bunga segera dinaikkan sebelum terlambat. Sejalan dengan pandangan Haldane, Gubernur BoE Mark Carney mengisyaratkan bahwa pihaknya siap menaikkan suku bunga (Rate Hike) pada bulan Mei mendatang.

Apabila Rate Hike benar-benar dilakukan, maka akan sesuai dengan ekspektasi pasar yang tercipta setelah rapat kebijakan BOE tanggal 8 Februari lalu. Namun, sejak saat itu, sejumlah rilis data ekonomi Inggris agak kedodoran. Selain GDP kuartal IV/2017 di bawah ekspektasi, pengangguran mengalami peningkatan pada periode yang sama. Di sisi lain, Haldane dan Carney memperingatkan Parlemen bahwa rencana keluarnya negeri ini dari Uni Eropa (Brexit) masih menjadi risiko terbesar bagi perekonomian Inggris.

Salah satu buktinya dapat dilihat pada data gaji riil. Menurut Carney, rata-rata gaji riil saat ini 3.5 persen lebih rendah dibanding ekspektasi BoE sebelum Referendum Brexit. Penyebabnya terletak pada lemahnya pertumbuhan gaji nominal dan melonjaknya inflasi, akibat pelemahan drastis Poundsterling pasca Brexit.

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Inggris, diantaranya :

  1. Manufacturing PMI                           Kamis 01/03/2018 16:30 WIB
  2. Net Lending to Individuals             Kamis 01/03/2018 16:30 WIB
  3. Construction PMI                             Jumat 02/03/2018 16:30 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga GBPUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.4069, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.4154 – 1.4243 – 1.4331. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.3843, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.3754 – 1.3666 – 1.3587.

 

AUDUSD

FS88 JOURNAL AUD TEMPLATE 

WEEKLY OUTLOOK :   NETRAL 

O : 0.7906     H : 0.7934      L : 0.7789      C : 0.7832

PERGERAKAN SEPEKAN 19/02 – 23/02 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 145 PIP

Secara Fundamental, Notulen rapat kebijakan bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang dirilis pada Selasa pekan kemarin mengisyaratkan bahwa otoritas moneter negeri Kanguru menilai pertumbuhan gaji karyawan dibutuhkan untuk memastikan pemulihan inflasi, sebelum kenaikan suku bunga dapat dilakukan. Notulen rapat kebijakan RBA menunjukkan bahwa mereka telah lebih yakin mengenai outlook ekonomi domestik, dengan dukungan pemulihan ekonomi global yang tersinkronisasi.

Akan tetapi, inflasi masih rendah, dan kemajuan lebih lanjut hanya akan terjadi secara bertahap. RBA juga menyoroti lambatnya pertumbuhan pendapatan yang dihadapkan pada tingginya utang rumah tangga. Poin ini menjadi alasan mengapa suku bunga perlu dipertahankan di level rendah hingga beberapa waktu ke depan. Apalagi, RBA pun memperingatkan bahwa apresiasi Dolar Australia bisa mengakibatkan perlambatan pemulihan ekonomi dan inflasi. RBA telah membiarkan suku bunga tetap pada 1.50 persen sejak Agustus 2016.

Kebijakan tersebut, menurut RBA, membantu mendorong Tingkat Pengangguran menurun ke 5.5 persen serta mendekatkan inflasi ke kisaran target 2-3 persen. Meski demikian, bank sentral yang didirikan didirikan pada 14 Januari 1960 ini memandang perjalanan ke depan masih penuh tantangan. "Kemajuan lebih lanjut dalam target-target (kami) diekspektasikan terjadi dalam beberapa periode mendatang, tetapi kenaikan inflasi kemungkinan hanya akan terjadi secara bertahap seiring penguatan ekonomi. Masih ada risiko kalau pertumbuhan konsumsi bisa jadi lebih lambat dari perkiraan, jika pertumbuhan pendapatan rumah tangga meningkat lebih sedikit dari ekspektasi." 

Pada sesi perdagangan pekan lalupun, Gubernur RBA Philip Lowe mengatakan bahwa ia ingin melihat pertumbuhan gaji tahunan berakselerasi dari 2 persen sekarang ke sekitar 3.5 persen. Di sisi lain, Asisten Gubernur Luci Ellis sempat menyoroti tren tak sedap yang kini merebak, yaitu perusahaan-perusahaan Australia enggan untuk menaikkan gaji, sehingga kesepakatan gaji bagi pegawai baru menawarkan lebih sedikit kenaikan ketimbang pegawai lama. 

Untuk sepekan kedepan akan ada beberapa Fundamental penting yang akan dirilis untuk zona Ekonomi Australia, diantaranya :

  1. Private Capital Expenditure           Kamis 01/03/2018 07:30 WIB

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga AUDUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 0.7885, kemungkinan harga akan kembali ke level 0.7933 – 0.7980 – 0.8028. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 0.7793, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 0.7747 – 0.7702 – 0.7654.

XAUUSD

FS88 JOURNAL XAU TEMPLATE 

WEEKLY OUTLOOK :  NETRAL

O : 1347.85   H : 1351.20   L : 1320.75    C : 1329.15

PERGERAKAN SEPEKAN 19/02 – 23/02 :  NEGATIF

RANGE SEPEKAN : $30.45 atau 304.5 PIP

Secara Fundamental, Harga emas dunia melemah di akhir pekan, menuju penurunan mingguan terbesar dalam 2,6 bulan. Penurunan dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi. Melansir halaman Reuters, Sabtu (24/2/2018), harga emas di pasar spot turun 0,2 persen ke posisi US$ 1.328,74 per ounce. Sementara harga emas berjangka AS untuk April turun US$ 2,40, atau 0,2 persen ke posisi US$ 1.330,30 per ounce.

Harga emas di pasar spot telah merosot 1,4 persen minggu ini, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak awal Desember, setelah gagal mempertahankan dorongan singkatnya di posisi di atas US$ 1.360 per ounce pada Jumat lalu. "(Baru-baru ini) tingkat tertinggi multi tahun dalam hasil pasti merupakan faktor untuk logam hari ini, "kata Mike O'Donnell, ahli strategi pasar di RJO Futures. Harga emas mendapatkan tekanan berat pada minggu ini seiring pulihnya greenback dan ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) akan terus melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunganya pada tahun ini.

Kebijakan ini akan membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang diminati. Kenaikan imbal hasil obligasi AS telah menempatkan dolar di jalur kenaikan mingguan terbesar kedua tahun ini. Pasar saham AS juga menguat setelah mencatat kerugian tajam baru-baru ini. Pelemahan euro turut menekan emas. "Kelemahan lebih dalam emas dan euro bisa menjadi awal dari tren baru dan harus berhati-hati," kata Friedberg Mercantile dari Sholom GroupSanik. Di pasar emas fisik, pedagang mengatakan pembelian teredam usai berlangsungnya perayaan Imlek.

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga XAUUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai koreksi intraday BULLISH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1340.75, kemungkinan harga akan kembali ke level 1351.15 – 1362.25 – 1373.00. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1319.65, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1310.05 – 1300.45 – 1290.85.

 

Sumber: ForexSignal88.ComForexFactory.ComCFTC, Investing.ComBloomberg.ComKitco.ComOilnGold.Com

DailyFx.ComReuters.ComCNN.ComMarketWatch.ComAssociated Press Sumber Gambar: Campaign.Com

Tags: #forexsignal88 #signalforex #sinyalforex #forexsignal #analisaforex #analisagold #belajarforex #seputarforex #sekilasforex #eurusd #gbpusd #audusd #xauusd #signalforexharian #signalforexakurat #analisaforex #analisatradingforex #analisaforexharian #analisagold #beritaforexindonesia #beritaforexharian #beritaterkiniforex #analisajituforex #toptrendingforex #signalforexgratis #signalforexindonesia #tipsforex #trikforex #strategiforex #teknikforex #analisateknikal

Share This

Jurnal Mingguan Lainnya

November 03, 2018

Sekilas Forex: Merkel, Brexit, dan BOE Gerakan Pasar Pekan Lalu. Kini Pasar Tunggu Midterm Election AS.

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 04/11/2018 - Aktivitas perdagangan forex dan emas pada pekan lalu (29 Oktober-2 November) di awali dengan naiknya nilai tukar dolar AS terhadap euro, mendekati level tertinggi 10 minggu yang dicetak pada pekan sebelumnya, di…
November 10, 2018

Sekilas Forex: Midterm Election AS dan Kenaikan Suku Bunga AS Semakin Dekat

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 10/11/2018 - Geliat bursa forex dan emas pada pekan lalu (5-9 November) sebagian besar dimotori oleh midterm election di Amerika Serikat (AS) atau dikenal pula sebagai pemilihan sela alias pemilihan jeda oleh media nasional di…
October 27, 2018

Sekilas Forex: 5 Perkembangan Forex Yang Penting Anda Ketahui

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 27/10/2018 - Dolar AS mengamuk di awal pekan lalu (22-26 Oktober), menekan semua rivalnya sekaligus membebani harga emas. Pemicu utama penguatan greenback adalah kemerosotan pound sterling di tengah meningkatnya ketidakpastian…
October 20, 2018

Sekilas Forex: Peluang 83% Untuk Suku Bunga AS Naik Lagi Di Desember 2018

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 21/10/2018 - Memulai paruh kedua bulan Oktober, dolar AS merosot pada hari Senin (15/10) setelah data penjualan ritel AS untuk September meleset dari ekspektasi para ekonom. Penyebab lain merosotnya greenback adalah imbal hasil…
October 13, 2018

Sekilas Forex: Melemah Pekan Kemarin, USD Butuh Berita Segar Untuk Pekan Depan

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 13/10/2018 - Perdagangan forex dan emas pekan lalu (8-12 Oktober) diawali dengan nada positif dolar AS sebagai reaksi pasar terhadap pelemahan di pasar global, yang dipimpin oleh jatuhnya ekuitas China, dan data-data ekonomi AS…